Itu dulu. Aturan itu hanya berlaku tempo dulu. Sekarang sudah berubah. Barangkali sudah tak ada seorang pun yang mengingat aturan itu, selain kau tentunya. Kau pun menghampirinya.
“Apa yang tengah dipikirkan seorang wanita dengan cangkir berisi kopi malabar original di tempat ini?” tegurmu.
Wanita di hadapanmu menolehkan wajahnya. Kau tertegun. Matanya yang bulat dengan pupil berwarna cokelat itu menyimpan sejuta misteri. Sorot matanya begitu menggelapkan. Kau selalu penasaran dengan wanita semacam itu.
“Dan apa yang tengah dipikirkan seorang lelaki yang berdiri di samping meja wanita asing dengan cangkir berisi kopi malabar original di tempat ini?” balasnya.
Kau terhenyak. Tak bisa membalasnya. Kau tahu makna terselubung di balik pertanyaannya. Orang yang paling tidak tahu sopan santun adalah orang yang mengganggu ketenangan menyatu dengan kopi malabar. Itu juga aturan tempo dulu. Kau jelas punya niat untuk duduk di kursi di hadapannya.
“Maafkan saya. Sungguh, saya meminta maaf. Saya akan kembali ke tempat duduk,” ujarmu, merasa bersalah.
Dia tertawa lirih. Kau memasang wajah bodoh. Dia memintamu untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya. ”Tak ada peraturan semacam itu sekarang,” ucapnya.
Kau duduk di depannya. Kau masih menyakinkan dirinya bahwa kau tak mengganggu. Ini kali pertama kau mendapat todongan semacam itu. Dalam hati kau bersyukur melakukannya sekarang. Jika saja kau melakukannya tempo dulu, kau tak akan punya kesempatan untuk mengunjungi tempat ini. Kau akan di-blacklist.
“Mereka jauh lebih mengganggu,” jawabnya sambil menunjuk sekeliling dengan cangkir kopi malabar. Nada bicaranya tenang. Tak seperti dirimu yang selalu gusar setiap mengatakan kalimat itu.
Kau pun tertawa. Tawa lepas yang aneh. Kau tak pernah tertawa di sini. Tawa yang melebur dalam keramaian. Kau tak sadar telah melanggar aturan minum kopi malabar di kedai ini, tempo dulu. Ya, itu dulu. Kau tak seharusnya merasa bersalah dan takut jika melanggar aturan tempo dulu. Tak seorang pun yang mengingatnya lagi. Kecuali, kau dan dia.
Dia juga membalas tawa lepasmu. Tawa yang membiusmu. Mungkin kau juga tak sadar bahwa kalian sama-sama punya tawa yang membius. Kau tak menampik perasaan yang berlabuh di sudut hatimu. Kau sadar telah sangat lama tak berpacu dengan perasaan berdebur itu.