Kedai Kopi Tempo Dulu

“Aku bisa membuat kedai kopi ini kembali seperti tempo dulu,” tegasmu.

Alisnya terangkat, membentuk bulan sabit. “Bagaimana caranya?”

“Setiap minggu aku datang ke kedai kopi ini. Untuk mematai-matai pemiliknya. Tujuanku adalah menjadikan kedai kopi ini milikku. Jika aku sudah mendapatkannya, akan kukembalikan tempat ini ke tempo dulu,” terangmu.

“Itu niat yang mulia,” tanggapnya, terpukau.

Kau tersanjung dengan nada yang diberikannya. Kau tak sadar telah jauh dari tujuan awal berada di tempat ini. Kau harus mematai-matai pemilik kedai kopi, mencari tahu kelemahannya, dan bisa merebutnya. Sebab, dia tak mau menjualnya dengan harga sebesar apa pun. Tentu saja tempat ini sekarang hanya menghasilkan keuntungan finansial belaka. Tanpa memproduksi kenangan demi kenangan.

“Kau mendukungku, kan? Mau melakukannya bersama-sama?” pintamu, penuh harap.

Dia meletakkan cangkirnya yang telah tandas isinya. Mulutnya membuka, berniat menjawab pertanyaanmu. Tapi, seorang lelaki menginterupsi. Dia pun menutup mulut kembali.

“Sayang, sudah selesai? Ayo kita pergi,” ajak lelaki itu.

Dia mengangguk pelan. Lantas membereskan tasnya. Menggaetnya di lengan kanan. Kau pun memasang wajah tegang dan kaku. Ekspresi yang juga sudah lama tak kau tunjukkan.

Dia berdiri. Menatapmu lembut. “Aku akan mendukung dan mendoakan supaya tujuanmu terkabulkan. Tapi, aku tak bisa membantu lebih dari itu. Ini terakhir kalinya aku menikmati kopi malabar original di tempat ini. Aku dan suamiku akan pergi ke tempat yang indah. Hanya berdua.”

Kau pun hanya mengamati kepergian mereka. Kau beralih menatap cangkir kopi malabar original yang telah dihabiskannya. Bekas gincu merah menyala ada di sisi cangkir. Sungguh, ada yang hilang. Sekelebat ingatan tempo dulu berputar. Tidak boleh jatuh cinta di tempat ini. Barangkali pemilik tempat ini tempo dulu juga merasakan apa yang kau rasakan hingga peraturan itu dibuat. Entahlah.

 

Kebumen, 24 Januari 2019

Arsip Cerpen di Indonesia