Kedai Kopi Tempo Dulu

“Ini kali pertama aku mengobrol dengan pengunjung lain di kedai kopi ini,” ujarnya.

“Aku pun begitu. Kau juga pengunjung tempo dulu?” tanyamu, memastikan.

“Tentu saja. Kau sudah tahu dari gaya meminumku, kan?” tanyanya.

Kau memindai segala yang ada pada dirinya. Seolah kau ingin mengingat dan menaruhnya di sudut memori kepalamu. Rambut hitamnya yang tergerai lurus. Wajahnya yang masih kencang walaupun saat dia tertawa tadi ada guratan keriput di samping matanya. Bagian yang paling kau suka adalah bibir tebalnya. Itu sangat memabukkan meski sekadar melihatnya. Kau pun memalingkan wajah ketika dia menyesap kopi malabar original-nya. Sungguh kau sudah lama tidak merasakan ini. Kau begitu kaku sekarang.

Kau menyukainya. Kalimat bahwa tidak boleh jatuh cinta dengan wanita di kedai kopi ini terus berputar. Kau berkilah, aturan itu sudah tak berlaku sekarang. Kau bisa melanjutkan apa yang ingin kau lakukan. Bahkan untuk memikat hatinya.

“Segalanya telah berubah sekarang. Tempat ini, rasa kopinya, dan suasananya. Tapi, ironisnya, aku tak bisa melupakan tempat ini,” tuturnya.

“Karena pemilik tempat ini sudah berganti,” jawabmu.

“Bagaimana kau tahu?” tanyanya sambil memicingkan mata.

Kau tersenyum samar. Kau lantas menunjuk salah seorang pemuda dengan pakaian modis ala drama Korea Selatan yang duduk di dekat meja kasir. Pemuda itu sibuk dengan gadgetnya. ”Dia cucu pendiri kedai kopi ini. Sekarang dia pemiliknya.”

“Wajar jika kedai kopi ini menjadi seperti sekarang. Kepribadian seseorang memengaruhi apa yang dia lakukan,” timpalnya.

“Kau benar. Pendiri kedai kopi ini dulunya punya kepribadian melankolis. Kabarnya, dia seorang penulis. Dia sendiri yang menciptakan aturan tempo dulu,” tanggapmu.

“Benarkah? Kau begitu mengenal tempat ini. Beda denganku yang hanya menikmati kopinya. Tapi, mungkinkah kedai kopi ini kembali seperti tempo dulu? Rasanya, itu sangat mustahil, kan?” tanyanya, berandai-andai.

Kau menyesap kopi malabar originalmu yang tinggal seperempat. Kau berpikir untuk memesan satu cangkir lagi. Obrolan ini tampaknya akan berakhir dengan bercangkir-cangkir kopi malabar. Ada yang kau pertimbangkan. Kau ingin mengatakannya, tetapi ini rahasia. Sesuatu yang penting menyangkut tempat ini. Sebuah alasan yang menyebabkanmu selalu datang setiap minggu. Kau memperhatikan lagi bibir tebalnya yang digincu merah menyala. Sudahlah, tidak apa mengatakan kepadanya.

Arsip Cerpen di Indonesia