Rangga memohon Dewa Brahma mengurungkan niat Raja meminang Bulan. Namun tak ada petunjuk dari Brahma. Akhirnya dia berpikir bagaimana bisa meracun Raja. Itulah pikiran gila yang tiba-tiba bersarang di kepalanya. Namun siapa mesti meracun Raja? Tentu Bulan. Gadis itu sering berada amat dekat dengan Raja. Dia akan merayu Bulan.
“Raja sudah memberiku istana di Taman Seloka dan banyak perhiasan,” kata Bulan ketika berjumpa Rangga.
Rangga menangis. “Kembalikan semua itu.”
“Mestinya Raja memilih Ayu. Menurutku dia lebih bagus menari. Dia lebih cantik. Ketika berjumpa Raja, aku sudah khawatir, jangan-jangan nanti dia mau menjadikan aku istrinya. Ternyata benar. Apa rencanamu? Kalau kau dibunuh karena aku menolaknya, aku bunuh diri menyusulmu.”
Rangga terharu dan bangga; Bulan tak lupa ikatan janji cinta suci mereka. Jika dia mati dibunuh karena melarikan Bulan, Raja tak akan dapat apaapa. Sementara Bulan telah diberi batas waktu untuk menjawab pinangan Raja.
Rangga Sengog mendekati Ayu Wahyuni Jingga. Mata Ayu Wahyuni Jingga jernih seperti kornea penyu seketika berbinar aneh. Untuk kali pertama Rangga memandang sepasang mata bagai permukaan danau jernih itu dengan jantung berdebar. Dia merasa seperti melihat hewan liar berenang dan pada saat yang tepat keluar tak terduga melontarkan bisa.
“Kau mabuk! Membunuh Raja tak mungkin! Sebaliknya aku pernah berpikir membunuh Bulan, kekasihmu.”
Rangga Sengog seperti diterkam hewan liar itu. “Kau perempuan ambisius tak tahu diri!”
“Aku ingin menguasai legong. Tak boleh ada perempuan lain. Kau akan merana ditinggal Bulan. Kau tak mungkin berani menyusul Bulan dengan bunuh diri jika dia kubunuh bukan?”
Rangga memang merasa tak mampu bunuh diri jika Bulan mati dibunuh Ayu gara-gara legong. Namun dia yakin Raja akan membunuh karena menganggap membiarkan Ayu menghabisi Bulan. Rangga Sengog serbasalah. Seperti anjing liar yang gelisah, ia menenggak berbotol-botol tuak aren. Pulang sempoyongan. Di matanya laksana bumi terbalik dan berputar-putar.
***