Malam meriah. Raja Agung Karna membuat takhta persembahan kepada Brahma dengan tarian ciptaannya. Bulan Trisna Kinaryoshi dan Ayu Wahyuni Jingga akan menari legong, disaksikan para tamu penting, diikuti utusan-utusan banjar.
Purnama bersinar. Pura dan tangga-tangga perak berkilau cahaya terang hingga ke langit. Dewa Brahma turun, berbisik kepada Raja: dia tak boleh membunuh rangga karena cemburu setelah Bulan menolak pinangan. Raja murka dan kecewa. Dia tak bisa melepaskan Bulan tanpa memperistri.
“Kau harus berhati-hati pada Ayu. Rangga pernah menyuruh dia meracunimu, Raja. Namun dia menolak. Dia lebih memilih membunuh Bulan demi jadi biang legong.”
Raja tersentak.
“Kau tak berdaya karena dibutakan cinta, padahal gerakan Ayu lebih indah, patah-patahnya lebih kuat. Juga dia lebih cantik dan padat berisi.”
“Bulan segalanya bagiku. Dia lebih cantik, gerakannya lebih indah, lebih padat berisi.”
“Itu karena kau jatuh cinta padanya.”
“Izinkan aku membunuh Rangga!”
“Jika Rangga mati, Bulan pasti bunuh diri. Mereka sudah berjanji sehidup-semati.”
Raja Agung Karna menggigil marah. “Kurang ajar Rangga Sengok!”
Di anjungan di depan istana, Bulan dan Ayu menari legong seiring seirama. Seluruh pasang mata yang menonton takjub, seakan melihat sepasang peri dan bayangannya.
***
Raja telah mengumpulkan para penari seantero pulau seperti Bulan inginkan, terutama yang berwajah mirip gadis itu, untuk jadi pengiring legong. Mereka riuh dalam pesta. Hewan-hewan disembelih, makanan dipersembahkan. Hari yang indah karena akhirnya Bulan menyatakan akan menerima pinangan Raja.
Sebenarnya Bulan sedang mempersiapkan pelarian. Dia menjadikan gadis-gadis yang mirip itu sebagai penari latar untuk mengelabui. Dia menyuruh Rangga menunggu di tepi sungai dengan perahu. Mereka akan pergi ke keraton Solo meminta perlindungan. Bulan juga berencana membunuh Ayu lebih dulu sebelum pergi. Dia iri karena gerakan gadis itu lebih indah, memukau, dan mendapat lebih banyak aplaus. Pikiran itu muncul begitu saja. Namun kemudian Bulan merasa percuma membunuh satu penari karena beribu penari legong pasti akan bermunculan.
Tanpa susah-payah Bulan bisa menemui Rangga di sungai. Mereka lalu berperahu di kegelapan, menuju desa seberang, saat para pengawal istana kelelahan, mabuk pesta. Tinggal Ayu seorang memimpin tari legong para gadis seantero banjar yang berwajah mirip Bulan.