Paras Kegaiban

Aku tidak berniat sombong dengan menampakkan diri yang seakan sudah akrab dengan doa-doa. Sudah menjadi bagian dari hidup doa. Bagiku doa adalah makhluk yang hidup dan bernyawa. Tumbuh dengan kesadaran dan kepatuhan yang tidak bisa disingkirkan. Maka  layak untuk diakrabi, dikenali dan menjadi sahabat karib. Sengaja  aku menceritakan tentangnya agar aku tidak bisa memisahkan diri darinya. Hidupku adalah doa. Nafas, detakan jantung, pandangan mata, langkah kaki, gerak tanganku dan aliran darahku, semua adalah doa. Bila aku tidur, dia yang menjaga. Bila aku yang terjaga, dialah yang menemaniku dengan pejaman matanya.

Begitulah, hari-hariku terjalani dengan kegembiraan yang tak pernah padam. Aku menjalani hidup dengan tujuan yang menyala. Cahaya kebaikan. Sengaja aku menjadikannya agung di hidupku, agar aku tak pernah malu, untuk bergerak, belajar, meminta bimbingan dari yang memiliki dunia dan segala isinya. Aku tak sungkan bertanya sesuatu yang  telah terlewati olehku. Maka bila sebuah peristiwa terjadi dan terulang lagi, aku tak akan menjadi galau dan kacau. Semua dinikmati dan dijalani sebagai cara pengabdian dan penghambaan kepada Tuhan. Namun, akhirakhir ini, aku merasakan  keterkejutan, ketika seseorang tiba-tiba menghadangku di jalan dan menarik tanganku ketepian. Aku terkejut, apalagi dengan cara yang kasar. Aku menengok ke sekeliling, ke kanan dan ke kiri untuk meminta pertolongan. Yang lebih aneh lagi mulutku menjadi kaku. Suaraku hilang ditelan keterkejutan. Untuk mengatakan apa maksudnya saja, aku tak bisa.

“Kurangajar!” suaraku tak terdengar hanya mataku yang memandang wajahnya dengan sedikit geram. Aku mencoba menghempaskan pegangan tangannya. Mencoba menarik lebih kuat tanganku sendiri. Tapi apa yang terjadi. Aku melihat sebuah wajah yang tak asing bagiku sendiri. Wajah yang begitu akrab dan dekat. Wajah yang  memandangku tanpa merasa berdosa. Wajah yang memunculkan ekspresi wajar dan seadanya. Wajah itu, wajahku sendiri. Bagaimana mungkin aku menjadi dua. Ya Tuhan. Aku menjadi dua! Bisikku pada hati yang entah sudah berdegub dengan dentuman berapa ratus kali? Sejak kapan Engkau membelahku dan menjadikannya dua hingga aku tak pernah menyadarinya? Tuhan sejak kapan Engkau menjadikan aku dua dan bertolak belakang satu dengan lainnya.

“Aku malu! Aku malu! Aku malu Tuhan, aku tidak mau!” aku mencoba menolak dengan berteriak. Tetapi tetap tidak terdengar suara dari mulutku. Hanya bisu. Aku melakukan perlawanan sebisaku. Seluruh daya, aku keluarkan untuk menghempaskan diriku. Menghindarinya, menjauhinya agar aku tak berhadapan dengan wajahnya. Namun wajahnya semakin dekat. Hidung, mata, pipi, kening dan bibir, nyaris bersentuhan denganku. Apa yang sebenarnya terjadi. Aku berlari menjauhi. Diapun masih menggenggam tanganku bahkan mencengkeramnya semakin kuat. Kemanapun aku pergi, dia mengikuti. Ah, deguban dada yang tak pernah aku alami sekecang ini, kembali hidup.

Arsip Cerpen di Indonesia