Paras Kegaiban

Aku tak mau bersama dengan wajah yang membuatku penuh dosa.

“Pergiiii!” teriakku sekali lagi.

“Jangan mengikutiku. Pergilah bersama orang-orang yang menyukaimu dan mau menerimamu. Aku tak suka, kau menguntitku! Apalagi mencampuri urusanku! Pergiii! Jangan menggangguku!” kata-kataku menjadi suara yang tak bisa diucapkan.

Wajah yang sama. Pandangan mata yang tajam. Bibir tanpa senyum. Yang terbaca hanya duka dan airmata. Bila melihatnya berdiri di depanku dengan wajah yang seperti itu. Aku seperti dilemparkan pada waktu-waktu yang tidak kuinginkan. Waktu yang berisi tentang kisah duka yang diramu dari untaian peristiwa yang memuakkan. Menyedihkan dan melahap semua kegembiraan. Hidupku adalah kebijaksanaan. Perjalanan yang menggunakan desir, ombak dan dentuman bahagia. Aku ingin bahagia. Kau ingin melawannya?

Jika aku dihadapkan terus menerus dengan wajahmu, kapan aku merasakan kebahagiaan? Baiklah, awalnya aku memang tidak tahu bila kau ingin menggangguku, tapi sekarang aku tahu dan tak takut kalau kau menggangguku, aku sudah menyiapkan diriku untuk melawanmu. Ayo kita berhadapan, dan berperang. Aku mengimani, Tuhan sudah menyiapkan aku menjadi pemenang. Dengan nyala dan paras kegaiban doa-doa, aku menyiapkan diriku menjadi sahabat karibnya. Doa. Kebaikan dan cahaya. Akan menyala dengan dentuman yang terdengar dengan kelembutan dan keindahan yang tumbuh di dalam jiwa.

“Ayo kita tabuh genta! Meskipun wajahmu sama denganku, kita adalah musuh utama! berperang dan bunyikan genderang. Paras kegaiban, oh paras kegaiban. Aku tak takut kehilangan!” ❑-g

 

#2019

Arsip Cerpen di Indonesia