Aku menuju pintu. Memutar knop lalu membukakan pintu untuk beberapa sekon kumulai dengan senyum palsuku. Sangat palsu. Aku tahu itu. Pintu berderak. Aku membiarkan diriku menunggu dan seseorang pun menunggu dipersilakan masuk ke dalam rumah. Dia memakai sepatu cokelat mengilat. Celana tissue yang dikenakan, aku tahu pasti baru saja disetrika. Kemeja lengan pendek berwarna biru langit, lengkap dengan dasi hitam melengkapi setelan pemuda di depanku.
Merayakan ulang tahun? Entah. Tak ada lilin, tak ada kue, lalu tak akan mungkin ada make a wish. Lega. Aku sangat lega, setidaknya, untuk yang satu ini tak akan ada perayaan dan kebahagiaan palsu.
“Boleh aku masuk?”
Aku bergeming. Menatap matanya dengan pandangan curiga yang tak kusembunyikan.
“Boleh. Tapi…” Dia sudah melangkah, namun segera berdiam di tempat saat aku menggantung ucapanku.
“Kenapa?” Ujarnya tanpa merasa ganjil.
“Anda siapa?”
Aku telah bekerja di salah satu perusahaan besar di Ibu Kota provinsi ini dengan cukup lama. Setelah lulus kuliah, sama seperti fresh graduate lainnya, aku luntang-lantung mencari pekerjaan. Tak mudah dan harus bekerja di sana-sini saat akhirnya seorang senior menawarkan aku bekerja di sini dan masih bertahan hingga hari ini. Setiap hari aku harus menerima dan menghadapi banyak tamu dengan banyak karakter. Bukan berarti pekerjaanku sebagai penerima tamu di berbagai acara pesta, bukan. Bukan juga penerima tamu di acara kebaktian mingguan dalam sebuah Gereja. Aku menerima ‘orang besar’ untuk ukuran manusia yang harus diajak kerja sama oleh perusahaan. Keseharianku tak pernah ada kata ‘aku’ dalam kamus percakapanku. Itu kenapa, hari itu, saat dia datang, tanpa sengaja percakapan ini harus kumulai dengan sapaan, Anda siapa?
Dia sedikit terperanjat. Aku lebih heran lagi. Menurutku, tak ada yang salah saat aku mempertanyakan seseorang yang datang ke rumahku untuk pertama kalinya. Tak ada yang salah aku menjaga jarak untuk seseorang yang baru kutemui.
Tak banyak pembicaraan di hari itu. Dia menyerahkan sebuah bingkisan padaku, mengucapkan selamat ulang tahun, lalu pamit untuk pulang. Untuk dia, tak ada kue ulang tahun, tak ada lilin, tak ada make a wish.
“Lalu…”
Dia memandangku dingin.