“Tapi, aku benci mereka.”
Aku menatap benci ke bingkisan yang masih utuh teronggok di sudut terhina itu.
“Tak ada ruang kebencian untuk keluarga, Lam.”
Aku masih ingat bagaimana aku menangis dan teriak di telinga Afri yang selalu menjadi tembok bagiku. Aku masih ingat bagaimana aku meraung melepaskan segala rasa kecewa yang berkecamuk di dalam hatiku untuk mereka.
“Lam, dengar aku. Kau tak harus menikah seperti impian mereka. Kau pun bebas memilih bahagiamu sendiri.” Aku begitu lega mendengar itu terucap dari seorang Afri. Lalu, saat kutanya apakah seharusnya aku membenci mereka, Afri masih seperti hari ini, mengatakan bawa tak satu alasan pun bagi setiap orang untuk memberi celah pada sebuah kebencian.
Usiaku yang ketiga puluh dua baru kurayakan beberapa minggu yang lalu, namun masih saja seperti kemarin saat lelaki bersepatu cokelat pekat, celana tissue hitam, dan kemeja biru langit serta dasi hitam yang tersampir mengelilingi lehernya, seperti baru kemarin lelaki itu ada di depanku. Juga seperti baru kemarin aku melihatnya pergi, meninggalkan hati yang benar-benar patah setelah sekian lama aku mencintainya.
Dunia yang terasa aneh saat dia datang lagi. Meski dengan waktu yang berbeda, tak pernah kusangka dia akan tetap menjadi hadiah dari keluargaku yang mereka anggap sebagai kado terindah di usiaku yang sudah tiga puluh dua tahun.
Entah aku harus pulang. Entah apa yang menjadi alasan untuk itu. Sebuah rindu? Setiap hari aku tak berhenti merindu. Lalu, apakah aku harus pulang setiap harinya? Karena perayaan? Aku merayakan hari-hariku setiap harinya. Hari-hari yang terjerat dalam kesedihan, hari-hari yang membuatku butuh pelukan, butuh penguatan. Butuh pengorbanan karena terlalu seringnya kukorbankan perasaanku. Luka batinku, tak ada satu pun yang tak kusebut sebagai perayaan. Lalu, suaramu yang begitu lembut di telingaku kemarin, haruskah berusaha kutepis? Sementara aku tahu pasti, tak ada pintu untuk kembali ke masa lalu jika suatu saat aku tak memiliki alasan untuk pulang. ***
Novita Sari Purba. Penulis adalah alumni Basastrasia Unimed