Sebuah Kepulangan

“Ini apa?”

Sambil memaksakan senyum tipisnya, dia mengangkat bahu. Bukan tidak tahu, tapi dia sedang malas untuk berkata apa-apa.

“Bukalah setelah aku pergi.”

Dan sampai hari ini, aku enggan untuk membukanya.

Di hari itu, aku marah, aku kecewa, bahkan aku menangis. Setelah kedatangannya, tak ada satu alasan pun bagiku memberi ruang pada yang lain untuk datang memberiku ucapan dan doa yang terbaik. Aku menolak beberapa teman yang datang. Aku menyuruh beberapa yang lain untuk pulang. Tak ada perayaan setelah itu.

***

“Pulanglah. Tak sering kau pulang ke rumah, kan?” Aku menggeleng. Sejak belasan tahun yang lalu, aku meminta hatiku untuk tak rindu. Aku tak tahu kenapa aku harus pulang. Sebuah rindu? Setiap hari aku tak berhenti merindu. Lalu, apakah aku harus pulang setiap harinya?

Karena perayaan? Aku merayakan hari-hariku setiap harinya. Hari-hari yang terjerat dalam kesedihan, hari-hari yang membuatku butuh pelukan, butuh penguatan. Butuh pengorbanan karena terlalu seringnya kukorbankan perasaanku. Luka batinku, tak ada satu pun yang tak kusebut sebagai perayaan. Lalu, suaramu yang begitu lembut di telingaku kemarin, haruskah berusaha kutepis? Sementara aku tahu pasti, tak ada pintu untuk kembali ke masa lalu jika suatu saat aku tak memiliki alasan untuk pulang.

“Ah…Aku harus pulang.” Teriakanku sampai ke telinga Afri yang tengah menyiap­kan makan malam. Dia berlari ke arahku. Sekelumit nada tanya di wajahnya, namun tertutupi dengan senyumnya yang manis.

“Aku juga sudah bilang, kau memang harus pulang.” Afri menyahut girang. Afri adalah teman lamaku. Sudah lama. Sejak aku ada di kota ini, yang beberapa tahun belakangan kusebut sebagai kotaku.

“Pulang. Kau harus pulang.”

“Tapi…”

Afri mendesah. Menahan napas seolah ini lebih pelik baginya daripada bagi aku sendiri.

“Pulanglah. Pulang.” Lama suaranya tentang satu kata itu.

“Kalau tentang perayaan, aku juga bisa merayakannya bersamamu, Fri.”

“Hei, bodoh. Ini bukan tentang perayaan. Ini tentang waktu yang tak akan terulang kembali.”

Arsip Cerpen di Indonesia