Setelah itu teman-teman Adam meninggalkan kelas. Mereka pulang ke rumah masing masing. Adam juga hendak pulang ke rumah. Dia mampir ke toilet ingin buang air kecil. Sehabis buang air kecil, dia berjalan ke parkiran sepeda. Adam sudah duduk di atas sadel sepedanya bersiap mengayuh. Tapi dia tidak jadi mengayuh.
“Apa yang dilakukan Eva? Kenapa dia berjongkok di depan tong sampah?” gumam Adam bertanya-tanya.
Adam turun dari sepedanya. Dia menghampiri Eva. “Eva, kamu belum pulang?”
Eva terperanjat kaget. Dia jatuh terduduk ke samping. “Kamu membuatku kaget!”
Adam terkikik geli. Dia membantu Eva berdiri. “Habisnya kamu berjongkok di depan tong sampah seperti orang kebingungan.”
“Aku takut. Kamu lihat bapak yang berdiri di gerbang sekolah itu?” tunjuk Eva pada seorang bapak yang memakai kaos berwarna biru dan celana hitam.
“Iya. Kenapa kamu takut padanya?”
“Bapak itu sangat mencurigakan. Aku perhatikan sejak minggu kemarin dia ada di sana setiap jam pulang sekolah,” beber Eva.
“Wajar, Va. Dia pasti salah satu orang tua yang menjemput anaknya.”
“Tidak. Dia tidak menjemput anaknya. Dia pergi dari sana setelah sekolah sepi. Seperti sedang memata-matai. Aku takut dia penculik anak. Aku pernah membaca di koran, orang menculik anak-anak untuk dijadikan pengemis,” sangka Eva.
“Imajinasimu begitu tinggi. Kenapa bapak itu ingin menculik anak sedangkan Pak Broto mengenalnya,” tunjuk Adam pada satpam yang sedang berbicara dengan bapak itu. Mereka terlihat seperti saling mengenal.
“Tapi aku tetap takut melewati gerbang sekolah.”
“Aku akan menemanimu,” ajak Adam.
“Setuju. Aku ambil sepedaku dulu.”
Eva mengambil sepedanya di parkiran. Adam berada di samping Eva. Dia juga menemani Eva sampai ke rumahnya.
“Aku sangat berterima kasih padamu. Aku sungguh takut pada bapak itu. Wajahnya menakutkan. Tolong selidiki siapa bapak itu. Kamu mau kan?” pinta Eva.
Adam tersenyum geli. Eva terlalu berprasangka buruk. “Baiklah. Aku akan menyelidiki bapak itu agar kamu tidak merepotkanku lagi.”
Eva tersenyum malu. Sudah berkali-kali Eva meminta tolong pada Adam untuk menyelidiki banyak hal. Mulai dari hilangnya pulpen, permen di laci meja, dan terakhir buku tugasnya. Adam dikenal sebagai detektif cilik karena pintar, teliti, dan jeli.