Adam Si Detektif Cilik

Keesokan harinya, sepulang sekolah Adam mengintai bapak itu. Dia mengawasi gerak-geriknya. Adam merasa curiga karena bapak itu menatap anak-anak keluar dari gerbang sekolah. Seperti sedang menunggu seseorang.

Sudah tidak ada yang keluar dari gerbang sekolah. Bapak itu berjalan menjauh. Adam mengikutinya dari belakang. Dia bertanya-tanya dalam hati. Kenapa bapak itu berdiri di gerbang sekolah seolah sedang menunggu seseorang, tetapi dia pergi setelah sekolah sepi. Apa yang dikatakan Eva benar? Bapak itu sedang memata-matai seseorang. Kemudian menculiknya untuk dijadikan pengemis.

Bapak itu berhenti berjalan. Dia kaget di depannya ada anak yang mengendarai sepeda terjatuh karena diserempet motor. Pengemudi motor itu pergi begitu saja. Lutut anak itu berdarah. Bapak itu menyobek bajunya untuk menutupi luka.

Adam berpikir cepat. Dia memanggil Pak Broto untuk minta pertolongan. Anak itu memakai seragam sekolah yang sama dengannya. Artinya salah satu siswa di sekolahnya. Pak Broto membawa anak itu ke puskemas terdekat menggunakan motor. Bapak itu juga ikut. Adam ikut ke puskesmas karena penasaran.

Tiba di puskesmas, anak itu diobati. Bapak itu duduk di kursi tunggu. Wajahnya pucat dan berkeringat dingin.

“Pak Broto mengenal bapak itu?” tanya Adam diam-diam.

“Kenal. Dia tetangga Bapak.”

“Kenapa bapak itu berdiri di gerbang sekolah setiap jam pulang sekolah? Dia mencurigakan,” tanya Adam pelan.

Pak Broto tersenyum sedih. “Seminggu yang lalu dia kehilangan anaknya karena kecelakaan. Anaknya ditabrak motor. Dia sangat kehilangan anaknya. Dia biasa menjemput anaknya setiap pulang sekolah.”

Adam kaget. Bapak itu menunggu anaknya di gerbang sekolah padahal sudah meninggal. Adam sangat sedih. Dia merasa bersalah karena berprasangka buruk. Dia menghampiri bapak itu. Dia meminta maaf. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia