Sutragi masih tergolong lumayan. Ibunya masih mendapatkan gaji setiap bulan. Walau bukan lagi seorang guru. Bersama sekian banyak guru lainnya di seluruh kabupaten, ibu Sutragi dipindahkan ke bagian administrasi di kantor dinas yang ada di kota kecamatan masing-masing. Beberapa item tunjangan pendapatannya sebagai guru pun hilang. Lagi pula, setiap hari harus pergi-pulang dengan menumpang kendaraan umum. Itu berarti gajinya yang tidak seberapa mesti dipotong ongkos transportasi. Tetapi, ada tambahan penghasilan lumayan signifikan. Pohon-pohon cengkih di pekarangan mulai berbunga. Itulah yang kemudian sangat menolong Sutragi untuk berangkat mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi yang mencetak calon guru.
Lulus tes saringan, Sutragi diterima sebagai mahasiswa baru. Ia senang bukan main. Ibunya menangis seharian.
Sedih dan gembira. Sedih karena membayangkan ongkosnya. Walaupun perguruan tinggi negeri jauh lebih murah dibanding swasta. Itu akan tetap berat baginya. Tetapi, siapa yang tidak merasa bangga? Kelak Sutragi akan menjadi orang pertama yang lulus sebagai sarjana di desanya. Dari perguruan tinggi negeri pula. Sutragi tidak akan menjadi guru SD atau SMP. Tetapi guru SMA. Atau SPG.
Tanaman cengkih yang mulai berbuah pada musimnya sangat menolong. Ditambah hubungan sosial orang tuanya yang bagus dengan para kerabat dan tetangga, Sutragi tidak pernah mendapatkan penolakan ketika berkirim surat untuk dikirimi tambahan uang. Orang tuanya harus pula jungkir balik gali lubang tutup lubang. Mungkin itu harga yang layak untuk sebuah cita-cita dan kebanggaan.
Setelah menyelesaikan KKN dan praktik mengajar, Sutragi menyempatkan pulang kampung. Menikmati musim liburan. Sekaligus menengok orang tuanya. Ia merasa akan membawa kabar baik bagi seluruh keluarganya. Kuliahnya akan kelar sebentar lagi dan gelar sarjana pun akan disandangnya. Tetapi, begitu sampai di rumah, ia mendapati suasana yang aneh. Wajah orang tuanya tidak berbinar-binar seperti sebelumnya setiap kali ia datang dari kota.
Setelah makan, malam itu ibu Sutragi membuka pembicaraan. Dengan suara pelan, “Jangan kaget, ya Nak? Ini kabar buruk buat kita.”
Sudah diminta untuk tidak terkejut, Sutragi tetap saja terkejut.
“Ada apa, Bu?”
“Ibu sekarang sudah pensiun.”
“Oh, bukankah seharusnya masa kerja Ibu masih sepuluhan tahun lagi?”
“Orang menyebutnya pensiun dini, Nak. Tepatnya dipensiunkan dini. Ada peraturan baru. Harus begitu. Ya, kita tinggal terima saja.”