Di Manakah Kubur yang Tepat buat Mayatku Ini?

“Memang kenapa, Bu?”

“Sudahlah, Nak. Ibu kan sudah tua. Sudah lelah. Tetapi, kamu …?”

“Ada apa denganku, Bu?”

“Kabarnya, negara juga telah mencatat namamu, beserta ribuan orang lain sebayamu, sebagai orang-orang yang tidak akan diterima menjadi pegawai negeri.”

“Oh! Lalu dasarnya apa, Bu?”

“Dasarnya ya peraturan itu. Peraturan pemerintah atau undang-undang, persisnya ibu tidak tahu.”

“Loh?”

“Ini berkaitan dengan almarhum ayahmu.”

Sutragi kini mulai paham. Ia lalu terdiam. Membongkar ingatan. Memunguti anganangan. Yang berserakan. Tak keruan. Dilihatnya berjuta-juta anak dilahirkan serentak. Dari rahim kemarahan. Yang tampil kemudian di permukaan ingatannya ialah sosok gelandangan nyaris sarjana. Yang ia pergoki di salah satu sudut alun-alun kota. Sedang bermain-main dengan kunang-kunang. Bersama seorang gadis yang manja. “Jangan-jangan aku telah bertemu dengan diriku sendiri. Di waktu yang telah lewat itu!” Lalu tahun demi tahun lewat. Sebagai malam gelap. Di sanalah sesosok gelap yang lebih pekat daripada malam kadang berjalan tegap. Kadang lunglai. Atau menggelepar di sudut alun-alun kota. Lalu bangkit menggendong mayatnya sendiri. Dan mengatakan kepada semua orang, “Aku sudah mati!” Kalau ia ditanya, jawabnya hampir selalu, “Aku sudah mati!”

Sesekali justru berupa pertanyaan balik, “Di manakah kubur yang tepat buat mayatku ini?” Tak peduli, tentang apa pun pertanyaannya. Hanya dua kalimat itu yang dapat diucapkannya untuk keperluan apa saja. Di warung nasi kadang ia mengangsurkan dirinya dan berkata, “Aku sudah mati!” Lalu ia dapatkan sebungkus nasi. Kalimat itu pula yang ia kemukakan untuk mendapatkan sebatang rokok. Ia bahkan sudah lupa bahwa ia punya nama: Sutragi.

 

Trenggalek, 2019

Arsip Cerpen di Indonesia