Dan Is memutuskan mengikuti kata hatinya. Is nekat menikah dengan lelaki yang diyakininya tak seperti sangkaan orang-orang. Is yakin ia mengenal lelaki itu lebih baik daripada siapa pun. Penampilannya boleh saja agak berbeda.
Tetapi lelaki itu tidak kasar, tidak pernah memukulnya, tidak pernah mengumpat.
Lelaki itu bahkan tidak melancarkan serangan gerilya pada malam-malam ketika mereka pergi berdua saja, kehujanan di tengah jalan, dan siluet tubuh Is di balik pakaian yang basah sungguh suatu godaan. Lelaki itu hanya akan mengulurkan jaketnya jika kebetulan membawa, lalu mengendarai sepeda motornya yang berknalpot nungging lebih kencang, membelah genang sepanjang jalan.
Lalu Is benar-benar mengandung benih lelaki itu. Hatinya damai meski masih lekat dalam ingatan tentang perkawinannya yang tak dihadiri satu pun keluarganya. Bapaknya mengunci diri di rumah nyaris sebulan lamanya, terlalu malu menghadapi pertanyaan atau sekadar tatapan tetangga. Ibunya konon masuk UGD hari itu juga dan Is tak pernah diperbolehkan menjenguknya.
Tidak sendirian, apalagi bersama menantu yang tak diharapkan itu. Saudara-saudara Is meludah persis di depan kaki Is saat Is datang dan bermaksud memperbaiki hubungan, merekatkan kembali yang retak. Pikirnya, nasi telah menjadi bubur. Daripada meratapi dan batal kenyang, tentu lebih baik menyiapkan lauk-pauk yang lezat untuk teman menyantapnya. Semua membanting pintu. Hidung Is nyaris melesak kalau ia tak serta-merta menarik kepalanya ke belakang.
Is menceritakan semua itu pada suaminya. Untuk apa menutupinya sementara sejak awal lelaki itu juga sudah tahu keadaannya? Suaminya tak mengatakan apa pun kecuali, “Mungkin akan berbeda jadinya jika aku lebih dapat membuktikan rasa tanggung jawab dan sayangku padamu serta anak kita nanti.”
Maka setelah anak semata wayang mereka dirasa cukup umur untuk ditinggal dan Is telah terbiasa dengan tugasnya sebagai seorang ibu, lelaki itu pamit merantau untuk kehidupan yang lebih baik. Mulanya, keinginan itu hendak ditunaikan saat Is masih hamil muda. Tetapi dengan keluarga yang tak lagi peduli dan tetangga yang memandang tak bersahabat, Is tak tahu bagaimana harus melewati kehamilan dan persalinannya kalau tak ada suaminya.
Lelaki itu berjanji akan segera memberi kabar setibanya di tanah rantau dan menepatinya. Lelaki itu juga meneleponnya di minggu-minggu pertama kepergiannya dari atas truk yang dikemudikannya meski suaranya putus-putus akibat sinyal yang buruk. Lelaki itu berjanji akan mengirimkan sebagian besar gajinya begitu ia mendapatkannya dan pulang beberapa bulan sekali untuk menyaksikan pertumbuhan pesat anak mereka.