Tetapi kali ini, lelaki itu mengingkari dua janji sekaligus. Bulan demi bulan berganti. Tak ada telepon lagi, kiriman uang tinggal angan, dan kemunculan lelaki itu di ambang pintu hanya ada dalam mimpi Is. Nomor teleponnya tak bisa dihubungi. Is tak tahu apa pun tentang perkebunan yang mempekerjakannya. Is banting tulang menggantikan peran suaminya dengan anak digendong di punggung. Tahun demi tahun berlalu, menghitung-hitungnya hanya makin melukai.
Hujan sejak siang menggelisahkan Is. Bayinya menjerit-jerit, kaget, dan takut dengan suara hujan yang nyaring saat menimpa atap seng. Is sudah berusaha menimangnya keliling seluruh ruangan. Tetapi bayi itu kembali menjerit saat petir menggelegar, tampak seperti hendak menyambar masuk ke rumahnya.
Sementara di ruang tamu, si sulung tak henti-hentinya membuat kegaduhan. Kedua tangannya mengayunkan sapu, berusaha mengenai incaran, tetapi ayunan yang terakhir malah memecahkan bola lampu yang baru dibeli beberapa hari lalu. Rumah menjadi temaram dengan hancurnya bola lampu itu. Anak itu nyaris naik ke meja dengan sapu andalannya dan membuat kekacauan lain saat Is muncul bersama bayinya.
“Apa sih, Nang? Tak lihat adikmu rewel sejak tadi? Bola lampu sudah kamu pecahkan. Sekarang apa lagi? Jendela? Atau atap sekalian kamu runtuhkan supaya kita kuyup semua?”
Belakangan, anak itu tak cuma senang menghabiskan waktunya sepulang sekolah dengan bermain bola, tapi berulah di rumah dan membuat kesabaran Is nyaris habis di tengah gunungan popok kain yang terus meninggi di samping sumur. Apa matahari sudah pensiun dini? Anak itu berhenti mengayunkan sapu.
“Itu! kupu-kupu sialan itu terus menggangguku! Besok aku ulangan. Tetapi kupu-kupu itu terus menghinggapiku. Rambut, hidung, tengkuk, tangan… Memangnya aku bunga? Sudah buta mungkin kupu-kupu ini!”
“Hus! Jangan kasar begitu! Ibu adukan pada ayahmu saat ia pulang, lebam lagi kamu nanti. Lagi pula itu cuma kupu-kupu. Tawon baru kamu boleh bingung. Nanti juga pergi sendiri kalau di luar hujan sudah berhenti. Ayo turun, keburu ayahmu membuka pintu.”
Bocah itu turun dari meja, kembali pada sebaran buku-bukunya dengan mendongkol. Sapunya tergeletak di sampingnya.
Suatu pagi di puncak musim hujan. Warga yang tinggal di dekat aliran sungai yang banjir semalam dikejutkan oleh mayat laki-laki yang tersangkut di antara batu-batu. Tubuhnya telah membengkak dan tak sehelai benang pun menutupinya. Inikah salah satu kru dari truk perkebunan yang hilang? Tetapi sopirnya dicirikan penuh tato dari leher sampai kaki. Atau inikah kernetnya?