Kupu-Kupu Tidak Menyakitimu

Jadi, di mana sopirnya? Diakah yang melarikan truk berikut muatannya? Ia memang tampak seperti seorang kriminal. Seharusnya tak satu pun perusahaan mempekerjakan orang sepertinya.

Banyak bulan telah berlalu saat tak jauh dari hulu sungai, seorang bocah berlari pulang ke rumahnya dengan membawa mainan baru yang ditemukannya di hutan. Saat ia menunjukkan mainan barunya yang tampak seperti pemukul genderang, orangtuanya seketika menjerit, “Astaga! Ini tulang orang, Nak!”

Anak itu meraung-raung saat orangtuanya berkeras merebut pemukul genderangnya.

Sapu patah menjadi dua. Bocah itu baru saja merasakan kemenangan saat sebelah telinganya dipelintir sampai wajahnya panas. Sepanjang perjalanan ke dinginnya kamar mandi, potongan gagang sapu terus menghajar bokongnya yang tipis. Pintu dikunci dari luar dan bocah itu tahu dunianya berakhir untuk kesekian kalinya sejak ia punya adik bayi.

Dan malam telah di puncak saat sayup-sayup terdengar ratapan, “Apa Ibu bilang, Nang? Kupu-kupu tidak menyakitimu. Seharusnya kamu membiarkannya terbang dan hinggap sesuka hati…”

Di lantai ruang tamu, di bawah ijuk yang tak lagi tebal, seekor kupu-kupu tergeletak tak berdaya. Sepasang sayapnya penuh bercak hitam dan putih, mengingatkan Is pada tato di sekujur tubuh seorang lelaki.

“Kupu-kupu tidak menyakitimu, Nang… Kupu-kupu tidak menyakitimu…” (M-2)

 

Surakarta, 5 April 2019

Arsip Cerpen di Indonesia