Nur Peudawa

Aku menawarkan pada perangkat desa agar masjid lama dipercantik kembali. Tidak hanya itu, bersama perangkat desa dan kecamatan aku berada di posisi paling depan mengusahakan dana dan segala kebutuhan sehingga masjid lama manjadi sangat indah tanpa sedikitpun mengganggu motif dan karakteristik asli masjid. Aku merancang lantai dua dipenuhi lemari kaca. Di dalamnya diisi berbagai barang unik dan langka yang dimiliki masyarakat Peudawa. Ada kitab kuning klasik, mushaf Alquran jaman dahulu, rencong, lontar silsilah uleebalang dan sayid, dan berbagai peninggalan klasik lainnya kami tempatkan di lantai dua. Lantai pertama kami jadikan perpustakaan sekaligus tempat pengajian bagi anak-anak.

Maskipun awalnya menuai beberapa tantangan, tetapi masyarakat Peudawa menjadi sangat senang padaku. Mereka dapat membanggakan diri sebagai orang yang menghargai peninggalan pendahulu mereka. Berbagai peninggalan pendahulu masyarakat Peudawa membuat mereka bangga dengan identitas mereka. Mereka punya banyak bukti untuk menunjukkan bahwa Peudawa punya sejarah yang dapat dibanggakan.

Bahkan masjid lama itu sudah menjadi semaacam museum kecamatan. Setiap pagi dan petang banyak anak-anak mengaji. Pada hari-hari libur, banyak pengunjung yang datang. Di sekitar masjid lama dibuatkan tempat yang nyaman untuk pengunjung. Bahkan para pengguna jalan memanfaatkan masjid lama Peudawa sebagai persinggahan. Hal itu membantu perekonomian masyarakat. Makanan khas, karya seni, buah tangan, dijual di sana. Kas desa juga banyak disumbangkan masjid lama.

Pada bulan puasa tahun ini, kegiatanku cukup banyak. Meskipun tidak menjabat di bagian manapun dalam struktur desa, aku memiliki kesibukan yang nyaris sama dengan geusyik. Kesibukan ini ternyata memberikan efek kurang baik bagi keluarga kami. Istriku sering merasa kesepian. Aku bahkan nyaris lupa bahwa Nur sedang hamil. Dia menjadi semakin resah karena kehamilannya semakin besar. Rupanya dia selalu memikirkan tentang status keluarga kami yang masih belum jelas. Kami belum punya kartu keluarga. Menikah liar memang setiap detik memberikan masalah.

Selain dengan kehamilannya yang tidak mudah, beban kepala Nur juga semakin membesar. Dia mengkhawatirkan kondisi anaknya yang nanti tidak punya status hukum yang jelas. Nur sempat menyinggung soal bagaimana anak kami mendapatkan akta kelahiran, layanan kesehatan dan bahkan sekolah kelak. Aku tidak berpikir sampai ke sana. Tetapi rupanya cara berpikir perempuan memang berbeda. Bahkan menurutku itu rumit. Nur yang sehari-hari hanya di rumah mungkin terus-menerus memikirkan persoalan itu. Sebenrnya aku juga resah. Tetapi tidak berlarut-larut karena kegiatanku siang dan malam sangat banyak di desa.

Arsip Cerpen di Indonesia