Nur Peudawa

Aku menyesal kenapa kembali ke Paudawa. Aku teringat pesan almarhum ayahku. “Sekecil apapun perbuatan kriminal yang dilakukan seseorang, baru niatnya saja, polisi sudah tahu.” Aku percaya itu. Mereka ahli kriminologi. Pelaku kriminal tidak peduli ilmu polisi sangat tinggi. Padahal semua orang sebenarnya tahu itu. Lihat saja polisi lalu lintas bisa tahu mana kendaraan yang tidak beres dan kendaraan yang lengkap surat-suratnya. Polisi bisa menemukan pembunuh hanya dengan menemukan sepotong tulang lengan manusia. Tetapi manusia sering abai. Kalau tidak melihat polisi, mereka mengira polisi itu tidak ada di dunia ini.

Di dalam mobil yang melaju tinggi aku menyesali semua perbuatanku. Aku menyesal menerima tawaran Fikar membawa ganja ke Jakarta. Aku menyesal kenapa tidak kembali ke Jakarta, tetapi malah hanya menetap di Peudawa. Aku mengutuk diriku. Rasanya aku ingin mati sebelum tiba di Langsa. Tetapi memang aku akan segera mati. Aku teringat pemerintah menerapkan hukum tanpa ampun bagi pengedar narkoba. Aku sadar bahwa umurku tidak panjang lagi. Tidak lama lagi aku akan mati. Tidak ada ampunan sama sekali bagi pengedar narkoba.

 

Matangglumpang Dua, 5 Juni 2019

Miswari, mahasiswa Program Doktor Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Arsip Cerpen di Indonesia