Nur Peudawa

Bahkan di malam hari raya, aku baru pulang sekitar jam dua. Aku terlibat dalam persiapan khotbah hari raya di masjid dan pawai takbiran. Pagi hari aku baru bangun menjelang ied ditegakkan. Aku segera mandi dan bergegas ke masjid. Aku benar-benar terlambat. Hanya mendapatkan saf di anak tangga yang agak lebar, nyaris di antara tumpukan sandal. Aku salat di anak tangga bersama anak-anak. Tidurku masih kurang cukup. Status keluargaku membuat kepala semakin pusing.

Beberapa anak sangat berisik. Bahkan mengataiku yang merupakan satu-satunya orang dewasa yang salat di tangga. Saat sedang salat emosiku tak terkendali. Pada rakaat kedua emosiku benar-benar tidak tertahan. Mereka terus menggangguku. Kubatalkan salat. Kutempeleng satu anak yang dari tadi paling aktif mengatai dan mengganggu salatku.

Rupanya hidung anak itu mengeluarkan darah. Aku kaget. Panik. Lalu bergegas meninggalkan masjid. Anak-anak lain menatapku dengan kesal. Aku benar-benar ketakutan. Saat jamaah menyelesaikan salat ied, aku belum meninggalkan pekarangan masjid baru. Salah seorang di antara jamaah memanggilku. Aku menoleh. Dia mengisyaratkan dengan tangan untuk kembali. Aku terjebak. Tidak bila menghindar. Semua jamah melihat ke arahku. Laki-laki muda yang berbadan tegak yang memanggilku itu buru-buru menghampiri. Aku berusaha tenang. Mencoba memberinya senyum. Aku ketakutan. Dia mendekat dan merangkulku. Memaksa kembali ke masjid. Aku sangat menyesal telah menampar bocah itu.

Saat memaksaku kembali ke masjid aku memberi isyarat ke satu sudut di pekarangan masjid baru. Pria yang merangkulku setuju. Aku berharap masalah itu tidak menjadi besar. Beberapa pria lainnya bangun menuju ke arah kami. Semuanya berbadan tegak. Tidak satu pun di antara mereka kukenali. Padahal aku kenal hampir semua pemuda di kawasan itu. Mungkin banyak orang yang baru mudik.

Pria yang tadi merangkulku berkata setengah berbisik, “Fikar sedang di kantor. Dia menyebutkan namamu.” Seperti disambar petir, aku benar-benar kaget. Darahku terasa berhenti mengalir. Badanku tegang. Aku menyesal hanya lari sampai Peudawa. Aku mengutuki diriku. Betapa bodohnya aku, hanya bersembunyi di Peudawa. Pemuda-pemuda itu menggiringku ke mobil Avanza. Di dalam mobil tanganku diborgol. Borgolnya kecil. Melingkari dua jempol tanganku. Dengan kecepatan tinggi Avanza menuju Polres Langsa.

Aku memikirkan Nur. Aku memikirkan bayi di perutnya. Kira-kira bayiku itu laki-laki atau berempuan. Aku mengutuki diriku. Seharusnya Nur kubawa lari Jakarta atau kota besar yang lebih jauh. Seseorang pernah menasihatiku setelah berhasil mengantar barang terkutuk itu agar aku sembunyi di Jakarta saja. “Kalau sembunyi itu di kota besar. Di sana masyarakat padat. Kalau di kampung-kampung ya ketahuan.”

Arsip Cerpen di Indonesia