“Minumlah obat penenang dan vitamin ini setiap waktu tidur. Jangan lupa berdoa sebelum tidur. Oh iya, apakah Anda muslim?”
“Muslim, Dok.”
“Salatlah sebelum tidur, barangkali akan memudahkan hatimu mencapai ketenangan.”
Dengan langkah tegap dan tujuan yang mantap, kutinggalkan ruang praktik dokter Rafi. Berbeda sekali ketika datang ke tempatnya tadi, langkahku lunglai dan tubuhku gontai. Resep obat dan vitamin yang disarankan dokter Rafi belum aku minum, tetapi entah kenapa justru aku merasa lebih baik dengan nasihat yang terakhirnya. Nasihat kadang lebih mujarab daripada obat.
/2//
Di kamar yang berisi pembaringan sunyi, cermin suram masa lalu, lemari tempat tumpukan kenangan, dan sebuah pijar lampu keremangan, mimpi itu masih menyiksa mataku. Akan tetapi, desahan napas di sebelahku berembus dengan sangat tenang. Wajahnya penuh kedamaian.
“Andai malam ini aku bisa tidur selelap wajah istriku,” gumamku dalam hati.
Kurapikan tepian rambutnya yang liar di antara keningnya yang senantiasa menyentuh sajadah. Betapa kutakutkan mimpi itu terjadi pada perempuan ini.
“Tidak!” pekikku dalam hati, “aku tak boleh tidur!”
Mimpi-mimpi itu telah terjadi. Mengerikan sekali. Bukan hanya sekali. Terus membawa mati. Kenapa aku membawa mimpi yang hanya menimbulkan kerawanan di hati? Mimpi membawa mati?
Kali pertama, saat aku bermimpi seseorang terjatuh dari tower seluler dekat rumahku, esok siangnya kudapati kabar seorang lelaki pekerja tower terjatuh dan tewas di tempat. Mimpi kedua, melihat seorang anak tertabrak sepeda motor saat menyeberang jalan, esok harinya kudengar Iskandar anak temanku meninggal karena tertabrak sepeda motor di tempat yang aku mimpikan. Mulanya aku tak ingin mempercayai itu, akan tetapi berturut-turut kumimpikan peristiwa buruk macam itu. Dan selalu berujung kematian. Sampai pada mimpi yang terakhir, kumimpikan istriku mati di tempat tidur tanpa ada sebab apa pun. Aku menangis tersedu-sedu, merasa kehilangan orang yang baru saja kunikahi tujuh bulan yang lalu. Bahkan saat ini dalam perutnya, sudah ditiupkan kehidupan calon anakku. Aku tak ingin keduanya tiada seperti mimpi-mimpiku yang sudah-sudah. Itulah alasanku, kenapa aku tak ingin tidur dan tak pernah bisa tidur.