Tetapi hanya seminggu suaminya berada di rumah, lalu sudah akan pergi lagi bekerja, membawa truk ke Jawa. Rahima akan kembali lagi sendiri. Menenun saja, tidak ke sawah lagi, perutnya sudah besar sekali.
Beberapa bulan setelah lima atau enam bulan itu, Rahima melahirkan anak laki-laki tanpa ditemani suami. Anaknya sehat dan besar badannya. Sementara suaminya baru akan pulang lagi ketika anak mereka itu sudah pandai merangkak. Seminggu saja, suaminya berangkat lagi ke Jawa. Beberapa bulan kemudian Rahima hamil lagi, perutnya besar lagi.
Suaminya pulang lagi ketika anak kedua mereka lahir. Lalu pulang berikutnya ketika anak kedua mereka sudah bisa mengucap ‘ibu, ayah mana’. Lalu pulang berikutnya ketika si sulung akan masuk sekolah dasar. Dapat dikatakan kira-kira, berapa kali suaminya pulang, dapat diketahui dari berapa orang anak Rahima. Jika anaknya ada 10, berarti suaminya hanya pernah pulang 10 kali pula.
***
Saya protes, “Ditinggalkan suaminya terus-menerus dalam waktu yang lama, tak mungkin Rahima sesabar itu. Kenapa ia tidak minta cerai saja?”
“Ya sudah, kita tidur!” ayah berniat mengakhiri cerita.
Saya protes lagi, “Ini cerita karang-karangan belaka, kan?”
“Kamu yang minta diceritakan, kan!” ayah balik berkata.
Saya protes, suara saya semakin meninggi, “Tidak mungkin ada orang macam Rahima di kampung kita. Cerita itu karang-karangan ayah belaka kan?”
“Ssst….” Telunjuk ayah tiba di bibirnya. Saya mengerti, ayah minta saya merendahkan suara. Angin menampar dinding pondok kami. Atapnya yang terbuat dari daun rumbia bergesekan diterpa angin.
“Ada apa, Yah?” kata saya kepada ayah dengan suara rendah, seperti berbisik.
“Ada orang di luar,” bisik ayah pula.
Cabai kami memang sedang masak. Mendekati bulan haji, harga cabai akan mahal sekali. Jika tidak dijagai ketika hari malam, pastilah akan diambil orang, akan habis dirurut maling-maling cabai. Ladang kami jauh dari kampung pula, tentu aman saja orang maling mengambilnya.
“Siapa?” tanya saya kepada ayah ingin tahu.
“Ssst…,” kata ayah saya lagi.
Ayah tak menghidupkan senter. Pelan-pelan ayah membuka pintu pondok. Pondok kami yang tingginya beberapa depa dari atas permukaan tanah dapat melihat dan memantau dengan jelas seluruh sisi ladang yang di bawahnya. Angin masih menerpa dinding dan atap pondok, menghasilkan bunyi gesekan yang menyeramkan seperti bunyi tubuh yang diseret.