Hantu Komunis

Saya mendekat kepada ayah, lebih mendekat lagi, ingin ikut ke mana ayah pergi, ke mana ayah bergerak.

“Kamu di sini saja!” kata ayah masih berbisik.

Tetapi saya terperanjat juga olehnya, terperanjat karena terkejut.

Setelah membuka pintu pondok, ayah berniat hendak turun. Di tangan ayah terpegang senter tetapi tetap tak dinyalakan, di pinggang berselempang parang panjang bergelung dalam sarungnya.

“Saya ikut!” kata saya kepada ayah, saya mulai takut.

“Tunggu saja di pondok!” perintah ayah lagi.

Ayah menuruni jenjang pondok dengan hati-hati, hampir-hampir tak mengeluarkan suara apa-apa pada lantai. Saya melihat dari celah di pintu pondok, melihat kepada punggung ayah, melihat ayah menuruni anak jenjang demi anak jenjang hingga sampai ke tanah dan ayah berjalan ke segala sisi ladang cabai kami dengan mengendap-endap. Saya menutup pintu pondok pelan-pelan. Saya memilih bergelung dengan selimut. Takut.

Beberapa saat ayah sudah kembali lagi.

“Tidak ada siapa-siapa,” kata ayah.

Saya masih bergelung takut.

“Ah, mungkin hantu Rahima!” kata ayah lagi.

“Hantu Rahima?” kata saya pula.

“Ayo kita lanjutkan cerita!”

***

Anak Rahima sudah berjumlah 20 orang. Laki-laki semua. Di antara mereka ada yang sudah beristri dan punya anak. Sementara suami Rahima yang tentu sudah tua itu juga terus juga berangkat, membawa truk besarnya ke Jawa, ke kota-kota di Jawa.

Suatu kali, seorang anak Rahima yang masih bujang minta dibelikan sepeda, tapi Rahima tak bisa membelikan. Rahima tak ada uang. Ia hanya ke sawah, kadang bertenun saja di rumah sendirian. Suaminya tak banyak meninggalkan uang untuknya tiap pulang, sekadar membeli lauk seminggu habis.

Rahima tidak dapat memenuhi keinginan anaknya itu. Anak bujangnya berang. Leher Rahima digorok oleh anak bujangnya itu pakai gergaji. Putus kepala Rahima dari tubuhnya. Matilah Rahima. Jadi hantu ia. Gentayangan ia. Dibunuhnya pula anak bujangnya itu oleh si hantu Rahima, mati pulalah anaknya. Sama-sama jadi hantu mereka. Karena sudah tua tetapi tetap menyopir juga, truk suami Rahima jatuh masuk jurang. Mati suaminya karena terjepit kepala truknya sendiri. Jadi hantu pulalah suaminya. Anaknya yang 19 orang lagi ingin pula jadi hantu seperti ayah dan ibu mereka. Gantung diri kesembilan belas orangnya. Jadi hantu pulalah semuanya. Semua hantu itu akhirnya bersatu di rumah keluarga itu kembali. Penuh rumah Rahima oleh hantu.

Arsip Cerpen di Indonesia