Hantu Komunis

Saya protes pula, “Mana mungkin semuanya jadi hantu?”

Ayah terus melanjutkan, tidak peduli, lebih lincah lagi bercerita. “20 orang anak Rahima yang laki-laki semua itu, karena sudah besar-besar, ternyata ada yang sudah beristri dan beranak-anak pula. Bunuh diri pulalah anak-anak dan istri mereka semua karena mengetahui ayah dan suami mereka mati dan jadi hantu. Jadi hantu pulalah semua istri dan anak-anak mereka itu kalau begitu.”

“Ah, cerita apa itu?!” bantah saya pada ayah, “Kata Ibu, hantu tak ada, hantu dalam perut!”

“Ya seperti itu jalan ceritanya. Kan kamu yang minta diceritakan!”

Saya diam saja. Saya tidur saja. Ah, ayah bercerita juga. Entah ke mana jalan cerita ayah perginya. Sayup-sayup, antara tidur dan terjaga, saya dengar juga ayah bercerita. “Sanak famili mereka jadi hantu semua. Tak ada yang betul seorang pun. Jadi cindaku, jadi siampa, jadi harimau, jadi dubilih. Jadi hantu semua pokoknya.”

“Rumah Rahima dibakar orang beramai-ramai karena dianggap sebagai sarang hantu,” kata ayah pula menutup cerita.

Belasan tahun kemudian saya tahu, cerita ayah tidak benar seluruhnya.

 

Pandai Sikek, 2019

Deddy Arsya, buku cerpennya adalah Rajab Syamsudin Penabuh Dulang (2017).

Arsip Cerpen di Indonesia