“Paling tadi suara tikus atau kucing,” kata Mas Orus menenangkan Erika dan diriku. Suaranya terdengar ragu. Terlebih setelah tatapan yang ia tujukan padaku sebelumnya.
Kenyataannya aku tak melihat ada barang yang berpindah, padahal jelas jika itu tikus apalagi kucing yang melintas pasti akan ada minimal perabot dapur ada yang jatuh dan berpindah tempat. Tapi semuanya masih ada di tempatnya. Aku hafal di mana tempat- tempat semua perabot dapur. Aku bisa mengingat dengan detail karena memang aku sendirilah yang menempatkan semua yang ada di sini. Memang tak ada yang berubah posisi. Aku berani bersumpah pada diriku sendiri
Nyaliku ciut. Tapi demi rasa penasaranku teratasi, kuberanikan diri lagi untuk memandangi sekeliling. Ini kali kedua kami bertiga memasuki dapur dan tak menjumpai apa-apa. Tadi kami sudah ke sini, melihat dapur dan memang tak ada apa-apa. Lalu suamiku mengajak kembali ke kamar, aku setuju. Tetapi ketika aku sampai di tubir pintu kamar, kudengar suara gaduh seperti yang Erika katakan. Suara tapak kaki manusia. Suaranya sangat jelas terdengar.
Kali ini aku percaya sepenuhnya ada Erika. Aku percaya memang ia tak bisa berbohong dan tak akan pernah berbohong. Tidak bisa tidak, Mas Orus yang masih di belakangku langsung kembali ke dapur dan aku mengikutinya dari belakang bersama anakku. Serupa dejavu, ia kembali melakukan hal yang sama. Mengambil sapu yang tergantung di dekat pintu—mungkin akan digunakan sebagai senjata atau pelindung—lalu menyalakan lampu, dan mencari dari mana suara berasal.
Mas Orus bergerak lebih cepat. Berjalan setengah berlari ke dapur lalu mencari-cari apa yang sebenarnya terjadi. Tapi setelah sampai dapur dan mencari sumber suaranya, lagi-lagi tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Semuanya nihil. Hingga akhirnya angin yang dingin merasuk ke tubuhku kurasakan dan membangkitkan rasa takutku. Membangkitkan pula naluriku sebagai ibu. Aku memeluk Erika semakin erat. Aku tak ingin melepasnya saat ini.
Dadaku berdesir. Hawa di sini tiba-tiba berubah. Dingin sekali. Aku merasakan hawa dingin di sekujur tubuh yang sebelumnya diawali seperti tiupan angin di leher. Aku merasakan sebuah kehadiran ketika Mas Orus mengajak kembali ke kamar. Ia telah memastikan tak ada apa-apa di sini. Seperti semula, aku berjalan di depan bersama Erika dan ia di belakang.