Kunjungan Mak Gejik

Aku mulai membalikkan badan untuk segera kembali ke kamar. Tapi sebelumnya, kulirik ke arah kiri untuk memastikan memang tak ada apa-apa. Kusapukan pandangan ke arah kompor lalu memandangi panel dan wajan. Lalu ketika pandanganku ke rak piring, kulihat apa yang sebelumnya tak pernah kupikirkan. Astaga! Aku melihatnya. Kupelankan jalanku dan kupastikan ulang apa yang kulihat. Mas Orus masih di belakang. Erika sempat menoleh ke arah di mana aku memandang. Kurasa ia juga melihatnya, entah kalau suamiku. Sepertinya pandangannya tak menangkap itu karena masih saja memandangi atap dan sekeliling.

“Ibu,” kata Erika pelan dan terputus. Tubuhnya yang sebelumnya hangat seketika itu juga mulai dingin. Sedingin tubuhku.

Aku tahu maksudnya. Ia melihat kehadiran itu juga. Kugerakkan tanganku untuk menutup matanya dan mengarahkan mukanya ke depan agar ia tak melihatnya lagi. Aku tak ingin rasa takut nantinya akan diingat oleh Erika di hari-hari selanjutnya. Apakah itu sebuah keegoisan diriku sebagai ibu. Ah tentu tidak. Itu sangat tidak baik untuk kehidupannya nanti.

Akan tetapi, bukankah hal itu malah akan menjadi pembelajaran hidup yang berharga untuknya nanti. Memang benar. Itu adalah suatu pengalaman yang tak akan ia lupakan. Sebuah proses untuk mengetahui apa-apa yang tak diketahui orang lain. Pengalaman berharga dan semoga akan menjadikannya orang yang berpengetahuan lebih dari yang lain. Maka saat itu juga kuputuskan untuk melepaskan tanganku dari wajahnya.

Seperti apa yang kupikirkan sebelumnya, ia langsung menoleh ke arah ia yang lain. Aku kaget ketika ia tak mengalihkan pandangannya dari sana. Malah menatap lebih lekat. Tentu dalam keadaan ini aku hanya bisa membiarkannya. Karena sebelumnya, Erika begitu dekat dengan sosok yang hadir di sana—Mak Gejik.

Ya, Mak Gejik. Ia mati beberapa bulan lalu karena terjatuh di kamar mandi. Dari pembicaraan yang kudengar ketika orang-orang melayat, Mak Gejik terpeleset. Itu diyakini semua warga karena memang ia sulit dalam berjalan. Ketika berjalan, salah satu kakinya serupa menghujam bumi—maaf, jika boleh kukatakan, kakinya pengkor. Menghentak dan berjalan agak terhuyung. Setiap kali berjalan, ketika diamati dengan seksama, berjalan seperti menahan tubuhnya yang akan roboh. Tetapi dalam keadaan itu dan penuh kekurangan, Mak Gejik tak pernah bisa jika harus berdiam diri di rumah terus-menerus. Selalu ada yang ia lakukan terutama memilih untuk berjalan-jalan berkeliling desa

Selama ini, yang kuketahui dari Mak Gejik adalah ia bekerja menganyam mendong untuk dijadikan tikar. Mendong didapatnya dari sekitaran sungai kecil atau kalen—bukan selokan—di bawah rumpun bambu. Tak jauh dari rumahku. Mendong ditanam di sana. Di lahan yang tak seberapa besar, bersama rerimbunan tanaman pandan, mendong tumbuh lebat di sana. Menjulang setinggi dada berwarna kehijauan. Tumbuhannya mirip dengan ilalang.

Arsip Cerpen di Indonesia