Kunjungan Mak Gejik

Biasanya, jika mengambil mendong, Mak Gejik ditemani Erika jika ia sudah pulang sekolah atau jika sedang libur. Erika senang jika diajak ke sana karena ia bisa bermain air dan sedikit lumpur. Tapi ia selalu pulang dalam keadaan bersih berkat dibersihkan oleh Mak Gejik. Ia pun membantu membawa mendong untuk dijemur di pinggir jalan dekat rumah kami.

Mendong yang sudah diambil akan dijemur hingga kering di bawah terik matahari untuk menghilangkan kandungan air yang ada. Lalu setelah kering, mendong akan ditumbuk hingga pipih. Penumbukannya pun tidak sembarangan. Karena jika saja salah sedikit saja mendong bisa rusak dan tidak bisa untuk dianyam. Erika acap kali menemani Mak Gejik menjemur mendong-mendong itu hingga sore. Setelahnya, ia bercerita padaku mengenai apa yang telah ia lakukan seharian.

“Mak Gejik baik ya, Bu,” kata Erika suatu kali. Hal itu ia katakan setelah Mak Gejik memberinya jajanan pasar. Katanya sehabis menjual tikar mendong di pasar.

Pergi ke pasar juga dilakukan Mak Gejik. Ia ke Pasar Gayamdompo yang tak jauh dari desa untuk menjual tikar mendongnya. Ada di desa seberang. Hanya perlu berjalan kaki sekitar sepuluh menit jika dilakukan orang normal, entah kalau Mak Gejik yang melakukannya. Kukira lebih. Mak Gejik berjalan ke barat ketika pagi hari. Aku dan Erika sering berpapasan ketika aku mengantar Erika ke sekolah. Berangkat pagi-pagi dengan cara berjalan yang sama, seperti sedang menggendong matahari di punggungnya.

Tikar mendong Mak Gejik masih banyak diminati sekalipun sekarang banyak tikar- tikar yang terbuat dari plastik maupun kain. Tikar mendong memiliki bau yang khas. Harum dan membuat kerasan ketika kita rebah di sana. Selain itu, tikarnya juga dingin. Nyaman sekali ketika dipakai. Berbeda dengan tikar buatan pabrik. Aku punya beberapa potong di rumah. Kubeli juga dari Mak Gejik.

Hal itulah yang membuat Mak Gejik masih membuat tikar mendong hingga sekarang. Bukankah demikian? Ia masih mengupayakan membuat tikar mendong karena tikar-tikarnya masih laku dan berarti ia bisa masih dapat uang. Entah kenapa ia masih melakukan hal itu, padahal anaknya juga tinggal tak jauh dari rumahnya. Masih satu desa denganku. Tetapi Mak Gejik tak mau ikut tinggal di rumah anaknya. Ia memilih tinggal di rumah yang sudah tua tak jauh dari rumahku.

Kedekatan itulah yang mungkin membuat Erika merasa tidak takut dengan kehadiran Mak Gejik di sini. Bukan Mak Gejik yang dulu melainkan kehadiran ia yang lain di dapur kami. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang dilakukan arwah atau hantu atau jin atau ah apa pun itu di kehidupan manusia yang hidup? Apa mungkin Mak Gejik ‘yang lain’ ingin menyampaikan sesuatu padaku. Ah, tentu saja bukan padaku, melainkan pada Erika yang sering menemani kesehariannya dulu sewaktu masih hidup.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku memandangnya dengan nanar lantas mengalihkan pandanganku pada Erika. Ia masih saja menatap ke arah yang sama. Tetapi itu tak bertahan lama ketika Mas Orus mengajak kami untuk segera ke kamar. Tidak ada apa-apa katanya. Kupikir memang ia tidak melihatnya. Tapi dalam kepala berjubel pertanyaan: apa tujuan dari kunjungan Mak Gejik ‘yang lain’ ke sini? (*)

Arsip Cerpen di Indonesia