“Tunggu di sini saja Panjul. Lakiku pergi ke pasar membeli beras. Sebantar lagi ia akan tiba,” terang Teim sambil menaruh segelas kopi hangat, “minum dulu, saya hendak menidurkan si kecil. Permisi Panjul.”
Panjul hanya mengangguk, pun Teim terus berjalan masuk ke dalam rumah. Panjul kembali mengingat-ngingat masa di mana ia dan Napol masih membujang dulu. Perbedaannya, Napol sekarang sudah memiliki bini. Memiliki sepasang anak yang tampan dan cantik. Nama anaknya pun mantap dan kekinian, yang besar bernama Aguste Lini, yang kecil bernama Julli Naihani.
Teringatlah oleh Panjul sewaktu Napol hendak me lamar Teim lima tahun lalu. Lima hari lamanya, karibnya itu tidak bisa tenang. Selalu dilema dan waswas.Takut menerima penolakan. Menerima anggukan pun Napol takut. Takut jika setelah menikah kelak, ia tidak dapat membahagiakan bininya itu. Atau pekerjaannya yang hanya bergaji dibawah gaji rata-rata pada umumnya dapat merusak kehidupan berumah tangga. Ketakukan sudah memeluk pikiran dan hatinya. Untung saja sewaktu itu, Panjul bersikap seperti manusia yang telah hidup beratus tahun. Ia menasehati Napol seperti seorang motivator. Walau sendirinya, sampai kini belum hi dup berpasangan.
Dikenang-kenangnya sewaktu hari pernikahan Napol dan Teim. Walau tidak terlalu banyak tamu yang hadir, hanya keluarga dekat mereka berdua. Tapi, bagi Panjul yang sengaja hadir di hari berbahagia karibnya itu juga merasakan kesakralan. Terlukis jelas di ingatan Panjul, mata Teim yang berkacakaca sulit menahan air mata bahagia. Atau ba gaimana tegas dan lantangnya vocal Napol sewaktu ijab kabul. Tangan yang serupa besi murni dan hitam legam kuat menggengam pengeras suara masjid. Waktu itulah bagi Panjul, Napol sudah menjadi lelaki sejati. Karena pernikahan bagi Panjul adalah upaya untuk menautkan dua raga dan jiwa dalam sekian banyak perbedaan, untuk mewujudkan kebersamaan meski tanpa teori persamaan. Pernikahan bukan hanya sekedar ber kasih-kasih dan bersayangsayang. Bukan hanya sekedar kawin, beranak dan berbahagia, tapi jauh daripada itu ada hal-hal yang ada namun tak dapat dije laskan oleh kata-kata. Itulah yang terpikirkan oleh Panjul.
Dalam perenungan Panjul mengingat pernikahan Napol dan Teim, terlintas sesosok wanita yang telah ia pilih untuk menjadi pa sangannya. Wanita pilihan yang belum diketahui oleh siapapun. Hanya Panjul seorang, tidak diketahui Na pol maupun bininya itu. Wanita yang sudah Panjul tetapkan untuk menjadi bidadari dunia dan bidadari surga seperti lagu yang diketahuinya. Bagi Panjul yang memiliki prinsip, hi dup adalah pilihan dan pilihan adalah kehidupan. Wanita itu sangat elok rupanya, baik bahasanya, hidung dasun tungga, pipi merah delima dan yang terpenting taat terhadap agama. Panjul sangat percaya terhadap pilihannya, ia yakin akan berujung duduk di pelaminan dengan wanita itu.