Panjul dan Pasangan Pilihannya

Tersenyum kecil Panjul membayangkan si wanita itu dan bagaimana resep sinya kelak. Napol yang sudah berdiri di depannya sambil memikul sekarung beras heran meihat karibnya itu. Tidak biasanya Panjul senyum-senyum sendiri. Napol yang keheranan langsung saja menegur karibnya. Teguran Na pol itu membuyarkan semua lamunan Panjul. Ia terkejut seolah baru saja mendengar suara-suara gaib. Untung saja ia tidak pingsan di tempat.

“Kenapa kau senyumsenyum sendiri? Apa kau sudah mulai gila karena terlalu lama hidup membujang? Atau tengah memikirkan rencana jahat?” Tegas Napol setelah meletakkan sekarung beras ke lantai.

“Saya tersenyum karena saya manusia. Saya memilih senyum-senyum sendiri karena itulah pilihan dalam hidup saya. Tidak ada rencana jahat dan sebangsanya itu. Dan saya bukan orang jahat.” Terang Panjul pada karibnya yang baru saja balik dari pasar.

Napol mengambil posisi duduk di hadapan Panjul. Ia memanggil bininya dan meminta dibuatkan segelas teh hangat. Sembari me nunggu teh hangat Napol menanyakan kabar dan sejenis basa-basi lainnya.

“Ada apa? Katakan saja,” ucap Napol sambil mengocok air teh dalam gelas yang baru saja disuguhkan bininya, “apa ada masa lah?” Sambung Napol.

“Begini Napol, aku hen dak mewujudkan mimpi setelah bangun tidur.” Terang Panjul menekurkan kepalanya. “Singkat daun ambil isi. Langsung ke inti.” Tegas Napol sambil membuka kacamata berminus besarnya.

“Seperti itu intinya. Aku hendak mewujudkan mimpi setelah bangun dari tidur.”

Napol bingung dengan arah pembicaraan. Seperti biasa, Panjul sering menggunakan kata-kata bermakna konotasi. Tidak pen ting baginya orang-orang lekas paham atau tidak. Yang terpenting pilihannya untuk memilih kata-kata konota si harus dipraktekkan. Ia tidak ingin hanya sekedar memilih teori, atau semacamnya itu, namun tidak pernah mempraktekkan pilihan tersebut. Itu bukan Panjul.

“Dalam mimpi aku bertemu dengan Yuyu. Yuyu yang pernah satu kelas dengan kita dulu.” Tegas Panjul, matanya berbinarbinar seolah ia pengembara padang pasir yang menenemukan oase. Sementara karibnya hanya mengamini dan menunggu lanjutan cerita.

“Ia pulang dari luar ne geri. Ia mengenakan baju serupa noni-noni serupa novel-novel terbitan balai pustaka. Juga mengenakan topi pantai, ah, entah apa nama topi yang tertonggok di kepalanya itu. Rambutnya tergerai meliuk-liuk hingga ke punggung, seperti deburan ombak menghantam pasir pantai. Da lam mimpiku itu, Yuyu lama memandangku namun tak berbicara, seolah memberikan kode. Tatapannya da lam padaku, Napol. Setelah itu apa kau bisa menebak kelanjutannya?”

Arsip Cerpen di Indonesia