Panjul dan Pasangan Pilihannya

“Kau menanyakan kabarnya. Menanyakan bagai mana kehidupan di negeri barat. Dan sejenisnya itu.” Raut muka Napol datar seperti tak berminat berbicara.

“Salah.”

“Terus?”

“Kau harus menebaknya.” Ucap Panjul sembari menaikkan kedua alisnya.

“Kau dan Yuyu tidak berbicara apa-apa hanya saling menatap dan dilanjutkan dengan adegan berpelukan. Dalam mimpi biasa seperti itu.” Tegas Napol semakin datar saja raut mukanya. “Hampir, sedikit lagi. Terus menebak.” Lain halnya dengan Panjul yang sangat bersemangat dengan segala ucapannya.

“Aku malas menebak, Panjul. Lanjutkan saja perihal mewujudkan mimpi setalah bangun tidur itu.” Napol meraih kacamatanya yang tadi ia letakkan di atas meja.

“Setelah Yuyu menatapku dengan dalam. Aku rasa tatapannya itu lebih dalam daripada orang-orang pedalaman. Kemudian, aku terbangun dari mimpi.” Hampir Napol memukul meja mendengar penjelasan Pan jul. Sudah petak-petak bentuk geraham Napol mendengar jawaban Panjul yang bertele-tele.

“Langsung saja ke inti, Panjul. Aku mulai muak!” Suara Napol naik beberapa tangga nada dari biasanya.

“Mimpi adalah cerminan nyata dari kehidupan. Mimpi bisa sering dikaitkan dengan kenyataan. Contohnya, jika kau bermimpi bertemu dengan ular, lekas pasang angka dua pada Pak Jordi. Jika kau bermimpi bertemu tikus segeralah padi diberikan pupuk. Sedang aku bermimpi bertemu Yuyu. Umurku sudah tiga puluh tahun. Aku yakin dengan pilihanku, setelah aku bermimpi bertemu dengan Yuyu. Sudah aku tetapkan, Rara, adiknya Yuyu hendak aku lamar. Bisakah kau menemaniku?” Mendengar penjelasan Panjul itu, Napol menempelkan telapak tangannya di kening. Napol sedikit tertawa dan cukup bahagia mendengar niat karib nya itu hendak menuju hidup berdampingan.

Panjul sangat yakin dengan wanita pilihannya itu. Ia merasa akan diterima oleh Rara hanya karena ia bermimpi bertemu Yuyu, kakak kontan Rara. Sudah seperti biasa, ketika Panjul telah memilih, tak seorang jua dapat memutus buhul pilihannya¯kecuali penolakan dari yang bersangkutan. Sedangkan Napol yang sudah paham dengan tingkah Panjul, ia memberikan kalimat-kalimat motivasi. Persis seperti Panjul memberikan kalimat-kalimat motivasi kepada Napol, ketika Napol hendak melamar Teim. Napol serupa motivator kelas nasional. Sedang Teim yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka hanya dapat berkata dalam hati, dunia ini berputar. Dulu lakiku yang menerima motivasi, kini lakiku yang memberikan motivasi. Teim menggeleng-geleng dan ikut tersenyum kecil di balik dinding. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia