Di luar gubuk suara memanggil terdengar. Berkali-kali, namun dia tak sanggup bangkit dari tempat tidur. Suara memanggil itu masih terus saja terdengar, membuat dia berkata “Masuklah” untuk menjawab suara ketukan pintu itu meski terputus-putus.
Suara memanggil itu menghilang. Berganti suara langkah kaki terdengar jelas di telinganya. Alangkah terkejutnya dia melihat abang ipar sudah terbaring lemas di atas tempat tidur. Komar sesegera menghampiri abang iparnya.
“Bang, Mahmud. Abang kenapa?” Komar gelisah melihat abang iparnya yang terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur.
“Aku tidak apa-apa. Hanya batuk-batuk saja.” Dia menjawab sambil terbatuk-batuk.
“Kalu begitu aku bawa abang ke Puskesmas.”
“Tidak! Aku tidak mau.” Dia menolak ajakan Komar.
“Kenapa, bang?”
“Aku tidak mau meninggalkan tempat tinggalku.”
“Alah, bang. Tidak ada yang mau mengambil gubuk ini, yang terpenting abang harus di bawa ke Puskesmas juga sebelum sakit abang bertambah parah.” Komar membentak seakan kesal dengan ucapan abang iparrnya.
“Pergilah. Aku tidak apa-apa, ini batuk biasa saja.”
“Aku akan pergi. Tapi, aku akan kembali ke sini membawa seorang dokter untuk memeriksa keadaan abang.”
Segera Komar pergi meninggalkan abang iparnya. Sekonyong-konyong langkah kaki menyibak rerumputan, tidak peduli rerumputan itu berduri atau tidak yang terpenting dia bisa sampai ke Puskesmas. Jarak Puskesmas tidak terlalu jauh dari rumah abang iparnya, sekitar lima kilometer jaraknya.
Setibanya di Puskesmas, Komar teriak memanggil dokter di dalam Puskesmas. Beruntug ada seorang dokter yang menemuinya. Selintas angin lalu, tanpa ada basa-basi dia mengajak dokter itu menuju ke gubuk abang iparnya. Dokter itu kebingungan apa yang sedang terjadi. Dokter itu pun lalu mengambil tas yang berisi obat-obatan dan peralatan kesehatan sebelum pergi meninggalkan Puskesmas.
Tidak terdengar lagi suara batuk abang iparnya. Komar semakin khawatir setiba di gubuk reot abang iparnya. Pikiran sudah bercampur aduk. Dia takut terjadi apa-apa dengan diri abang iparnya.