Komar masuk ke dalam gubuk bersama seorang dokter Puskesmas. Komar terkejut melihat abang iparnya terdiam. Dokter yang dibawa Komar segera memeriksa kondisi abang iparnya. Namun, lagi-lagi abang iparnya menolak. Komar semakin kesal, matanya melotot menatap wajah abang iparnya.
“Ini waktu yang paling tepat, Komar.” Dia tersendu menatap Komar.
“Tepat apa, bang.”
“Tepat, di mana aku pulang menemui keluargaku di alam sana.” Dia tersenyum menatap langit-langit gubuk reotnya.
“Sudahlah, bang! Jangan berpikir yang macam-macam.”
“Percuma, Komar. Percuma saja semua ini. Sudah sangat lama aku menunggu saat-saat yang begini, hidupku adalah untuk pulang dan pulang adalah tempat di mana aku akan menemukan kebahagiaan yang selama ini aku rindukan. Terima kasih, Komar.”
“Bang…”
Perlahan matanya mulai terpejam. Komar terbungkam dengan apa yang di lihatnya. Begitu juga dengan dokter Puskesmas yang dibawa Komar, kaku tak bergerak sedikit pun. Sepi menghempas suasana di gubuk reot. Dia pun pergi menuju keluarga yang sudah sangat lama menunggu kehadirannya
Esok hari, sehabis shalat Zuhur, jenazahnya dibawa warga desa ke tempat pemakaman umum. Rindu yang selama ini terpendam akhirnya terbayarkan. Dia pulang dan menetap bersama keluarganya untuk selamanya. Rindu akan bermuara ke tempat yang paling tepat dituju. Begitu juga dengan dirinya, di samping makam istrinya dia datang meski sudah tertutupi setumpuk tanah, menjadi gundukan yang diberi nama kuburan.