Mata Hati Santun (1)

“Aku sudah pacaran dengan Rahmat,” sahut Asni dengan nada riang. Wajah putihnya merona merah.

Dunia seakan berhenti berputar. Bunyi dedaunan dan buaian lembut angin tak lagi kurasakan. Jantungku berdetak cepat. Keringat membasahi tubuhku. Benarkah kalimatnya itu?

“Santun, kok malah bengong sih? Kamu nggak suka aku bersamanya?” Asni menyadarkanku dari lamunan.

Aku mencoba tersenyum. Senyum pilu sakitkan hati.

“Ng… ng… nggak, aku bahagia mendengarnya. Selamat ya Asni?” kusodorkan jemari padanya.

Dengan raut bahagia Asni menerima uluran tanganku. “Aku tahu kamu pasti kaget. Secara Rahmat cowok idola di kampus. Sudah kaya, baik hati lagi. Siapa coba, yang nggak suka padanya?”

Aku tak menjawab ucapan Asni. Hanya mengangguk-angguk.

“Tapi Santun, kamu nggak suka ‘kan padanya?” tanya Asni menyelidik dengan senyum mengembang.

Aku langsung menggeleng dengan ritme cepat. “Nggak mungkinlah gadis sepertiku suka padanya.”

Asni mengangguk dan tersenyum. Ada raut kelegaan di wajahnya. “Ya, aku juga yakin hal itu. Kamu ‘kan nggak pernah pacaran. Pasti kalau sudah ketemu yang tepat langsung menikah. Benar ‘kan?” Asni mengerlingkan sebelah matanya padaku.

Aku hanya menggerakkan bahu sebagai jawaban.

“Ngomong-ngomong, aku harus pulang sekarang. Rahmat sudah menungguku. Dia mengajakku untuk bertemu keluarganya. Kamu nggak apa-apa kalau pulang sendirian?”

Aku mengangguk. “Ya sudah, kamu pulang saja sendiri. Aku masih mau menikmati suasana di sini.”

Asni pun beranjak dari duduknya. Lalu menstarter motor matik putihnya. Beberapa detik kemudian dia sudah meninggalkanku.

Aku dan Asni sudah bersahabat sejak SD. Kami selalu sekolah di sekolah yang sama. Bahkan hingga kuliah, di jurusan dan kelas yang sama. Meski begitu, kami tetaplah berbeda. Ayahku hanya supir angkot, dan ibu penjual gorengan. Aku memiliki tiga adik yang masih sangat belia.

Arsip Cerpen di Indonesia