Mata Hati Santun (1)

Asni Annisa Lubis. Banyak yang menghina karena tubuhnya yang tergolong tambun. Tapi di luar itu, dia merupakan gadis yang baik hati. Jiwa sosialnya tinggi. Dan dia juga putri dari salah satu orang terkaya di Padang Sidimpuan.

Asni sudah berkali-kali pacaran. Aku tidak tahu apa yang dilihat cowok darinya. Apa karena hatinya, atau hartanya. Yang aku tahu, dia selalu disakiti. Tapi dia tak pernah jera untuk memulai hubungan baru. Karena dia yakin seluruh mantannya adalah sejarah dan pelajaran berharga dalam hidupnya.

Yang tidak aku sadari sebagai sahabatnya, ternyata dia jatuh cinta pada Rahmat. Lelaki pindahan dari Bandung karena ikut orangtuanya yang dipindahtugaskan ke Padang Sidimpuan.

Semua orang juga tahu bahwa wajah cantik atau rupawan di Indonesia paling banyak didapatkan di Bandung. Lalu, Rahmat yang menjadi pindahan di kelas kami, seketika menjadi mahasiswa idola. Rebutan para mahasiswi. Sikapnya yang ramah tamah menjadi nilai plus di mata orang. Apalagi dia juga pintar dan mudah bergaul.

Tak terasa, air mata menetes di wajahku. Deras, meski tanpa suara. Hatiku pilu. Tercabik dan hancur berkeping-keping.

***

Empat bulan yang lalu…

Aku tengah asyik dengan bacaanku di perpustakaan kampus. Hal yang sering kulakukan ketika jam kuliah kosong, bahkan sudah menjadi rutinitas wajibku. Bagiku, perpustakaan lebih menyenangkan dibanding kantin atau tempat lainnya.

Hari itu perpustakaan sangat sepi pengunjung. Lebih sepi dibanding hari-hari sebelumnya. Hanya ada tiga orang di sini. Aku, seorang anak lelaki yang tidak kutahu namanya, dan petugas penjaga perpustakaan. (bersambung)

Arsip Cerpen di Indonesia