Pak Tua dan Dongeng Masa Lalunya

“Masa pemerintahan Bupati Soepadi Joedodarmo, tayuban masih jadi pertunjukan rakyat yang eksentrik dan menyenangkan. Saat masa itu, di Blora sudah diadaptasi menjadi seni tayub yang adiluhung menjadi lambang kesenian Blora. Kau tahu, aku suka sekali tayub. Tayub itu kesenian yang bebas. Bahkan kini berkonotasi negatif bagi masyarakat. Tayub penuh unsur seks. Itu membuatku terlena. Bagaimana tidak? Penari lelaki dengan gampang mencium penari wanita, memasukkan uang dalam kemben, dan para wanita itu seakan membangkitkan nafsu lelaki yang menjadi penonton.”

Aku tahu itu. Bahkan tayub pernah diprotes kalangan agamais karena menimbulkan sesuatu yang buruk di masyarakat.

“Dari sinilah aku bertemu Surti, penari wanita yang kucintai. Setiap kali aku nonton tayub, hanya ingin melihat dia. Akhirnya aku bisa mengenal dia lebih dekat. Kau tahu kan suku Samin? Nah, dia ternyata bagian dari suku itu. Dulu aku belum terlalu mengenal Samin. Selain mendekati Surti, aku juga belajar tentang Samin.

“Orang Samin lugu, polos, dan menolak segala perintah kolonial. Mereka memiliki pemimpin bernama Samin Surasentiko. Suku ini memiliki kitab suci, Serat Jamus Kalimasada. Dari kitab itulah mereka membentuk negara batin yang damai. Aku suka sekali berada di sana. Meskipun orang yang baru bersosialisasi dengan mereka akan menganggap mereka seperti orang gila.”

“Lalu, apa kau berhasil dengan Surti?” tanyaku penasaran. Ya aku hanya berpikir, jika Pak Tua berhasil mempersunting Surti tentulah hidupnya tidak seperti ini.

“Aku menghamilinya. Karena masa itu, Samin masih terbuka akan seks. Mereka menjadikan seks atau perkawinan tanpa perlu ikatan pernikahan. Dan aku terjerumus di dalamnya. Namun setelah kuhamili, Surti tidak pernah mau menemuiku lagi. Aku merasa seperti bajingan yang tidak bisa bertanggung jawab.”

Aku menghela napas. “Kau tidak berusaha menemui dan mengajaknya menikah?”

“Sudah. Bahkan aku sampai lelah selalu mendatangi rumahnya. Orang tuanya juga tidak menyukaiku sejak awal. Mereka menganggapku seperti kompeni.”

Lalu raut kesedihan muncul di wajahnya. Mungkin dia masih sayang pada Surti hingga saat ini. “Kau tidak mencari pengganti Surti?”

“Tidak. Hatiku hanya untuk Surti dan anak di rahimnya.”

Aku salut. Rupanya dia setia pada seorang wanita. Tidak seperti mantan kekasihku yang sering kali hanya menjadikan aku mainan. Lalu aku menatap kakinya. Ia seperti tersadar tengah kutatap.

Arsip Cerpen di Indonesia