“Kakiku buntung saat aku membantu Surti ketika hendak diperkosa dalam pertunjukan tayub. Seorang lelaki menggoda dan memaksa dia untuk memuaskan nafsu. Aku yang mengamati dari jauh segera menyusul mereka. Nahas, dia tidak sendirian. Aku dikeroyok dan kakiku ditebas dengan parang.”
Aku ngilu mendengar ceritanya. Sungguh.
Tanpa sadar hari sudah malam. Aku pamit pada Pak Tua dan berjanji datang esok hari membawa makanan. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
***
Sore keesokan hari, aku kembali menemui Pak Tua. Ia duduk dengan khidmat dan menatapku dari jauh. Sepertinya dia sudah menungguku.
“Ini aku bawakan makanan sesuai dengan janjiku kemarin. Makanlah. Aku tahu kau lapar.”
Ia menolak. Ia tidak mau memakan bawaanku. Seperti pengemis, katanya, yang hanya bisa menerima. Sekali lagi aku salut padanya. Aku pun teringat sesuatu.
“Aku sedang mengerjakan makalah untuk lomba. Maukah kau membantuku? Ini tentang budaya Blora. Aku tahu kau pasti tahu betul selukbeluk tradisi kota ini. Anggap saja makanan ini imbalan karena kau membantuku. Bagaimana?”
Ia tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju.
Rupanya dia tahu betul budaya dan kesenian Blora. Dari tayub, barongan, wayang, sampai ketoprak. Aku yakin banyak kisah yang dia simpan dan belum ia ceritakan padaku. Ia memberi masukan dan pencerahan. Meski sudah tua, ia masih ingat betul detail tradisi dan budaya. Bahkan hanya beberapa jam, makalahku selesai secara garis besar. Tinggal kudalami dan kupas sedikit, selesai sudah.
“Jika makalah ini jadi juara, aku akan mentraktirmu. Kau bebas makan di mana saja. Apa yang kau mau. Sebagai imbalan dan rasa terima kasihku.”
Lagi-lagi ia hanya tersenyum. Aku pun pulang dengan perasaan senang.
***
Hari ini aku tidak menemui Pak Tua. Aku berusaha menyelesaikan makalah karena esok terakhir mengumpulkan dan langsung presentasi. Aku sejenak melupakan Pak Tua.
Tibalah saat presentasi makalah. Aku presentasi dengan sangat baik. Pak Tua memberiku detail tradisi dengan baik. Juri menyukai dan menobatkan aku jadi juara pertama. Aku senang bukan main. Segera aku pulang untuk menemui Pak Tua.
Sampai di sana, aku tidak menemukan dia. Apa dia sedang pergi ke tempat lain? Aku pun pulang, berharap nanti Pak Tua kembali.