Sore hari aku ke sana lagi dan tidak menemukan dia. Berkaliulang sampai dua hari. Nihil. Saat aku masih memikirkan ke mana Pak Tua pergi, seorang pedagang di dekat tempat itu menghampiriku.
“Mbak sedang apa ya? Saya lihat sejak kemarin selalu ke sini?”
“Saya mencari Pak Tua yang biasanya di sini, Pak.”
“Oalah, Pak Tua itu dua hari lalu kecelakaan saat hendak menyeberang jalan. Nahas, dia meninggal saat hendak dibawa ke puskesmas. Sebelum meninggal dia menitipkan surat dan berkata agar diberikan pada wanita yang mencari. Mungkin yang Pak Tua maksud Mbak.”
Bapak itu pun memberikan surat padaku. Tanganku gemetar menerima surat itu. Aku tak kuasa menahan tangis. Kabar duka itu datang terlalu cepat. Aku baru mengenal dia dan kini harus berpisah.
Segera kubaca surat itu.
“Melinda, aku merasa hidupku sudah tidak lama lagi. Aku senang mengenalmu. Senang berbagi cerita dan riset budaya padamu. Aku tahu kau akan memenangi lomba itu. Jadi kuucapkan selamat. Maaf, mungkin saat kamu menemuiku, aku sudah tidak ada di tempatku seperti biasa. Aku harap kamu menjadi aktivis budaya yang selalu mencintai budayamu.”
Aku hanya bisa menahan tangis.
***
Di depanku kini berdiri bangunan sederhana. Banyak anak sedang berlatih menari, berteater, dan mendalang. Tertulis di papan nama “Omah Budhaya”. Bangunan itulah rumah singgah yang kudirikan untuk mengajak masyarakat melestarikan budaya dan tradisi Blora yang kaya. Aku ingin mewujudkan pesan Pak Tua agar menjadi aktivis yang selalu cinta budaya sendiri, budaya dan adat istiadat Jawa Tengah, khususnya Blora.
“Kau sudah membuktikan padanya, Mel,” ucap lelaki di sampingku. Dia Burhan, teman aktivis sekaligus suamiku.
“Ya, aku hanya ingin membuat Pak Tua tersenyum di surga.” (28)
Rio Dwi Cahyono, lahir di Blora, 4 Agustus 2001. Menulis fiksi sejak sekolah menengah pertama. Juara III penulisan cerpen Festival Sastra UGM 2018. Saat ini sedang meramu buku kumpulan cerpen perdana.