Pukulan Telak Akibat Puisi

Atas saran rekan kerjanya yang baik hati, puisi-puisi itu pun dikirimkan ke media cetak. “Bila dimuat, berarti telah ada pengakuan dari redaktur sastra, sekaligus dari publik.” Berminggu berbulan, bahkan sudah setahun, Wandi tak henti berkirim puisi-puisi ke koran-koran. Entah karena puisinya yang kurang berbobot atau nasib kurang beruntung, tak satu pun yang dimuat. Ah, Wandi agak ngambek rupanya. Kini tak pernah lagi membuat puisi dan berkirim. Juga, tak lagi membawa buku-buku puisi ke tempat kerjanya. Buku-buku itu disimpan di lemari. Dalam keseharian di kantor, Wandi membenamkan diri pada pekerjaan sehari-hari—bila ada waktu luang pun lebih memilih membaca seluruh berita pada beberapa koran—yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam.

Perihal perubahan keseharian Wandi di kantor, membuat Kepala heran. Di lorong kantor keduanya bertemu. “Katanya menyukai puisi, kenapa berhenti? Iya, diakui, tak mudah membuat puisi. Maksudnya, puisi yang berbobot, yang dapat menggugah hati orang.” Wandi tetap saja diam dalam kebingungan. Sebelum Kepala beranjak pergi, berpesan. “Jangan berhenti menyukai puisi. Teruslah membaca juga menulis agar semakin terasah.”

Wandi mengikuti saran kepala. Di satu bulan pada Senin pertama, kembali membawa  buku-buku puisi dari beberapa penyair. Kali ini, membacanya saat keadaan ruang kerja sama sekali sedang lengang.

Perihal Wandi yang kembali menyukai puisi, menjadi bahan pergunjingan lagi. Malah, gunjingan lebih terbuka. Jika dulu membicarakan Wandi di belakang, kali ini langsung di depannya. Tetap saja orang itu yang mengomporinya. Tanpa tedeng aling-aling, di satu hari saat Wandi menyusuri satu lorong kantor, orang itu nyeletuk. “Awas.. penyair gagal mau lewat.” Wandi hanya menatap, meski cukup tajam. Pada puncaknya, di satu saat makan siang di kantin kantor, orang itu berujar. “Sebelum makan, bacalah puisi.” Kalimat ini sangat menusuk hati Wandi, membuat matanya memerah, tangan kanannya mengepal. Jika saja tidak dilerai pemilik kantin, akan terjadi baku hantam.

Nyatanya, ledekan orang itu tak pernah berhenti. Merasa tak tahan, di satu sore sepulang bubar kantor, Wandi menghampirinya. “Kenapa kau selalu meledekku? Apakah salah bila aku menyukai puisi? Apakah merugikanmu?”

Wandi tak henti bicara. “Kau jangan munafik tidak suka puisi.. Bukankah saat kau sekolah dulu suka membuat puisi di bukumu? Tentang kekecewaanmu pada kegagalan, atau cinta?”

Arsip Cerpen di Indonesia