Dari resepsionis kantor, Wandi pun tahu, bahwa hubungan orang itu dengan pacarnya makin renggang.
Malah, sejalan dengan waktu, pacar orang itu benar-benar terbius puisi Wandi. Ke mana pun bepergian, buku kumpulan puisi Wandi selalu ada di tasnya. Bahkan saat tidur, buku puisi itu tergeletak di samping kepalanya.
Sementara, rekan Wandi yang sering meledek merasa, bahwa bila hubungan dengan pacarnya tidak diperbaiki, bisa-bisa akan berakhir. Lalu keduanya sepakat, akan bertemu di satu waktu di taman hutan raya di kota ini—saat keduanya pertama kali bertemu.
Ooh.. rekan Wandi nyaris tak percaya, saat melihat pacarnya dan Wandi sedang duduk akrab di bangku taman. Tangan pacarnya sedang mengenggam buku kumpulan puisi. Dengan geram, rekan Wandi bicara dengan nada tinggi pada pacarnya. “Kau juga penyuka puisi? Berarti kau lebay!”
Ini kali tak ada ampun dari Wandi. “Kau jangan sepelekan puisi.” Lalu, satu pukulan telak, tepat mengenai mulut orang itu. Berakibat berdarah. ***
Bandung, Juni 2019
Gandi Sugandi. Penulis alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000. Mulai tahun 2002 bekerja di Perum Perhutani. Tahun 2014, 2015 mendapatkan penghargaan sebagai karyawan berprestasi. Saat ini sebagai staf komunikasi perusahaan KPH Bandung Selatan.