Pukulan Telak Akibat Puisi

Mendengar kata cinta, orang ini yang memang sedang berseteru dengan pacarnya naik pitam. “Jangan hubungkan puisi dan cinta.. Memangnya dengan puisi, bisa mendapatkan cinta dari seseorang.”

Wandi merasa di atas angin. “Cinta diungkap lewat puisi berkesan romantis. Mungkin kau tak begitu, makanya pacarmu uring-uringan.”

Di depan gerbang itu, suasana sore makin panas saja, bila satpam kantor tak melerai, bisa terjadi perkelahian.

Waktu berlalu. Wandi kembali berkirim puisi ke koran-koran. Entah karena memang puisi-puisinya sekarang sudah berbobot, karena redakturnya merasa kasihan, atau memang sudah rezekinya kali ini di satu media, tiga puisinya dimuat.

Perihal puisi-puisinya itu, mendapat pujian dari kepala kantor. Malah, kepala menugaskan untuk membuat sekaligus membacakan yang bertema penyemangat kerja, di saat apel Senin pagi minggu depan. Lain halnya dengan orang itu, menolak usulan Kepala. Hatinya masih saja panas, tersebab hubungannya dengan pacarnya masih saja belum membaik.

“Apa hubungannya apel pagi dengan puisi, Pak?”

“Banyak manfaat dari puisi. Seperti dapat menggelorakan semangat bekerja. Ya sekali ini saja, Wandi membacakan puisinya.”

Orang itu hanya seorang staf seperti Wandi, tak bisa apa-apa, selain hanya bisa mengikuti keinginan kepala.

Di saat membacakan puisi, Wandi penuh semangat. Suaranya menggelegar. Terdengar jelas. Seluruh peserta upacara terpukau pada tema puisi yang tersirat. Hari itu menjadi milik Wandi, seolah hari ulang tahun. Namun sebenarnya Wandi miris. Di kantornya tempat bekerja, hanya orang itu yang membenci puisi. Wandi tak habis pikir. Mengapa bisa, membenci puisi? Apakah karena dia sedang berseteru dengan pacarnya, akulah yang menjadi pelampiasannya?

Waktu berlalu. Puisi-puisi Wandi yang dimuat di koran semakin banyak. Diam-diam, pacar orang itu, menyukai puisi-puisi Wandi. Saat kumpulan puisi Wandi menjadi buku, pacar orang itu membelinya. Rasa kagum semakin tinggi. Malah kini timbul rasa suka di hati.

Tibalah pula acara pembacaan puisi tunggal karya Wandi di satu gedung kesenian. Orang itu sebenarnya sudah diajak pacarnya untuk menonton, namun kukuh saja menolak. Pada akhirnya, pacar orang itu berangkat sendiri.

Arsip Cerpen di Indonesia