Sesampai di lapangan semua anak memiliki sepeda. Ketika Rara turun dari boncengan Tasya semua anak-anak melihat kearahnya. Di sana ada Tio, Azrah, dan Tita mereka mendatangi Rara dan Tasya.
“Kok diboncengi, sepeda kamu mana Ra.” Tanya Tio.
“Atau kamu tidak punya sepeda.” Lanjut Azrah.
“Kasihan sekali ya, gak punya sepeda, kamu mau pinjam sepeda kami? Enak aja, nggak boleh kami lagi asyik bermain.” Bentak Tita.
“Iya nih, di sini hanya boleh untuk orang-orang yang punya sepeda, jika tidak punya gak boleh ikut main.” Ujar Tio.
“Eh kalian kok kasar sekali bicaranya, dia kan teman kita juga. Jangan gitu sama teman kita sendiri.” Nasehat Tasya.
“Udah Tasya, aku ngak apa-apa kok, aku pulang dulu ya”. Rara pergi meninggalkan mereka semua.
Rara pulang ke rumah dengan hati yang sedih. Sesampai di rumah Rara langsung memeluk Ibunya dan menangis.
“Kamu kenapa nak, kok nangis sayang?” Tanya Ibu dengan hati cemas.
“Mereka tidak memperbolehkan Rara bermain di lapangan bu, karena Rara gak punya sepeda. Tio, Azrah, dan Tita juga tidak mau meminjamkan sepedanya. Hanya Tasya yang baik kepadaku. Kapan Ibu bisa belikan sepeda? Rara mau sepedanya warna biru.” Rara merengek di pelukan Ibu.
“Ya sudah, kamu jangan nangis lagi ya Ibu usahakan. Jika sore ini kue-kue jualan Ibu jadi di beli Ibu Tasya untuk acara arisannya. Nanti baru kita beli sepedanya.” Ibu Rara menenangkan anak semata wayangnya itu.
Rarapun berhenti menangis setalah bujukan Ibunya yang akan membelikan sepeda warna biru kesukaan Rara.
“Sekarang kita makan dulu yok.” Ujar Ibu Rara.
“Baik bu.” Jawab Rara sambil beranjak dari duduknya.
Selesai makan Rara pun kelelahan dan kekenyangan sehingga tertidur pulas di sopa depan ruang tamu. Ibu Rara tidak tega membangunkan anaknya untuk pindah ke kamar. Melihat anaknya yang sangat menginginkan sepeda membuat ia semangat untuk mengerjakan pesanan kue Ibu Tasya. Selesai membuat kue, Ibu Tasya menelepon Ibu Rara. Mengabarkan kuenya udah bisa di antar ke rumah. Kabar itu membuat Ibu Rara merasa senang dan bahagia.
“Ibu… ibu.. ibu di mana?” Rara terbangun dari tidur dan mencari ibunya.
“Ibu di dapur nak.” Jawab Ibunya sambil membereskan peralatan-peralatan kue.
“Ibu dari mana saja?” Tanya Rara.
“Ibu tadi pergi sebentar ke rumah Tasya untuk mengantari pesanan ibunya. Ayo ikut Ibu ada yang Ibu bawa untukmu.”
“Apa bu?”
“Ayo ikut saja dulu nak.”