Oleh Rismar Wahyu (Analisa, 07 Juli 2019)

Sore hari, Rara yang asik bermain sendiri di bawah pohon rambutan muka rumah. Dari kejauhan Rara melihat Tasya yang sedang asik bermain dengan bel sepeda. Sepertinya Tasya kelihatan bahagia sekali dengan sepeda barunya.
Kring.., kring..,kring..,kring
“Tasya, kamu mau kemana?” tanya Rara sambil melambaikan tangan.
“Eh Rara, aku mau ke lapangan, di sana sudah ada teman-teman yang lainnya, bersama sepeda baru ku ini.” Tasya menghampiri Rara.
“Wah, bagus ya sepeda kamu, warnanya pink dan ada belnya.”
“Iya nih, sepada ini baru dibeli Ayahku. Dia baru saja dapat orderan bakso yang banyak.”
“Ih enak ya, aku udah lama ingin punya sepeda, namun ibuku belum juga dapat membelinya. Uang kami hanya cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari saja.” Rara menceritaan nasip malangnya dengan muka bersedih.
“Jangan sedih Ra, kamu harus tetap bersyukur masih bisa makan. Masih banyak di luar sana mati kelaparan karna tidak punya uang untuk membeli makanan. Jadi kamu harus tetap bersyukur.” Tasya coba menasehati Rara.
“Iya Tasya, tapikan aku juga pengen sepeda.”
“Kamu boleh meminjam sepedaku kok, kamu teman ku juga.”
“Terimakasih ya Tasya kamu memang teman baikku.”
“Iya, kamu ikut aja kelapangan biar kubonceng.”
“Beneran nih.” Ujar Rara dengan senang hati.
Rara dan Tasya pergi kelapangan bersama. Diperjalanan mereka berdua terlihat riang dengan menyanyikan salah satu lagu anak-anak yang diciptakan oleh almarhumah Bu Kasur.
Kring-kring-kring ada sepeda
Sepadaku roda tiga
Kudapar dari ayah
Karena rajin belajar
Tok-tok-tok ada sepatu
Sepatuku kulit lembut
Kudapat dari ibu
Karena rajin membantu