“Kamu lihat rumah itu, Bang. Gayanya minimalis, tapi enak dipandang mata, kan!” seru Laila di lain waktu, saat melintasi persawahan dan kebun kosong bersama Hasan dengan sepeda motor. Itu cerita enam-tujuh tahun lalu, saat Hasan masih sehat. Saat lahan-lahan di pinggiran kota sudah banyak beralih fungsi menjadi bangunan rumah, toko, gudang, dan bangunan lainnya. Sedangkan lahan persawahan semakin terjepit. Warga dari luar kota yang yang banyak menyerbu masuk, semakin menciptakan persaingan baru dengan warga setempat. Mereka membawa harta dan kekayaan entah dari mana. Lalu membangun koloni-koloni baru di pinggiran kota. Warga yang punya tanah, menjualnya dengan harga selangit. Tetapi tetap saja ada pendatang yang membeli. Apalagi ketika pemerintah mengabarkan akan membangun jalan tol di sekitar hunian baru itu. Maka semeter tanah bisa dihargai jutaan rupiah oleh pemiliknya. Warga yang tanahnya terjual, menjadi orang kaya baru. Mereka menghabiskan uangnya dengan membeli mobil dan berlibur ke luar negeri.
Sepanjang hari damtruk berseliweran menderu-deru mengangkut material proyek. Menerbangkan debu di kala musim kemarau dan membuat kubangan air yang bertebaran di sepanjang jalanan desa. Hasan juga semakin tertekan ketika kedua anak kembar mereka suka merengek minta dibuatkan rumah. Sebenarnya jika saja Hasan mau mengalah sedikit saja, maka masalahnya tidak akan sepelik ini. Karena pihak perbankan akan dengan senang hati menggelontorkan kredit pembangunan rumah kepada mereka. Hasan berstatus PNS.
Namun Hasan tetap bergeming, “Itu perbuatan haram, Dik!” selalu katanya begitu. “Ayah dan Mak dulu selalu wanti-wanti jangan pernah kita makan uang riba. Dosanya sangat besar!”
Dan seandainya Laila tetap bersitegang terus, maka Hasan tanpa ragu akan keluar rumah. Hasan kerap berkumpul di majelis pengajian bersama teman-temannya yang rata-rata memelihara janggut dan berjubah panjang melewati lutut, hingga larut malam.
“Aku kadang malu sama teman-teman arisan di kantormu, Bang. Mereka selalu menceritakan kalau rumah baru mereka akan segera diisi dengan perabotan Jepara. Atau rumah baru mereka akan segera ditempati. Bahkan mereka mengundang kita pada acara syukuran nanti,” ujar Laila setiap kali pulang arisan.
“Maafkan aku, Sayang. Kalau sampai sekarang aku belum bisa membahagiakan kamu!” bisik Hasan ke telinga Laila menjelang tidur malam. Laila memejamkan mata, namun hatinya tetap rusuh.
***