Namun dengan pertimbangan keuangan dan suaminya yang sakit-sakitan, Laila mengurungkan niat untuk ikut serta. Hanya saja, si kembar Sara dan Sari yang baru berusia 12 tahun, harus menangis seharian karena melihat sepupu mereka yang lain berlibur ke luar negeri. Apalagi mereka belum pernah merasakan berlibur ke luar negeri sekalipun.
Namun kesedihan si kembar itu, akhirnya berganti dengan nestapa dan sekaligus rasa syukur. Dua jam setelah pesawat yang ditumpangi keluarganya tinggal landas, burung besi itu mengalami kecelakaan udara. Air mata Laila tumpah. Berhari-hari ia menagisi kepergian saudaranya. Terlebih lagi setelah semua penumpang dalam pesawat, dinyatakan meninggal. Sebagai ahli waris tunggal, Laila memperoleh santunan asuransi yang besar dari maskapai penerbangan dan pemerintah. Selama tujuh hari berturut-turut, rumah Laila dibanjiri warga dan kerabat dekat. Sedangkan semua harta peninggalan saudaranya, jatuh ke tangan Laila. Laila mendadak menjadi orang kaya baru.
Laila menatap wajah-wajah di sekelilingnya; Bang Hasan, si kembar Sara dan Sari, dan perangkat desa yang mendampingi petugas notaris yang bertandang ke rumahnya hari itu. Dan ketika matanya tertuju pada wajah teduh Wak Mah, orang tua itu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Namun hati Laila mulai dirasuki kegundahan; apakah dengan empat rumah dan harta peninggalan saudaranya yang sekarang jadi milikinya itu, apakah Laila merasa bahagia sekarang? Dan air mata kembali Laila berlinang.
Abd. Halim Mubary, menulis cerpen dan puisi, tinggal di Peusangan, Bireuen.