Adras Si Penjahit

Dengan kemampuannya Adras membantu menyelesaikan persoalan sehari-hari penduduk. Lamalama orang jadi segan padanya dan menganggap ia orang yang diberkati oleh penguasa alam raya. Tapi suatu hari terkuaklah cerita bahwa Adras adalah keturunan Sireth, si pembunuh yang terkenal karena menghabisi keluarganya sendiri. Kira-kira enam keturunan lalu, para moyang penduduk desa ini masih bermukim jauh di timur. Suatu kawasan tepi sungai yang tanahnya subur. Sireth juga lahir di sana. Ketika tumbuh dewasa Sireth iri pada saudaranya sebab saudaranya itu lebih beruntung. Usahanya maju, hidupnya makmur, dan punya seorang kekasih yang jelitanya tiada terkira. Sireth jatuh hati pada kekasih saudaranya itu. Karena tak mungkin bisa merebut hati perempuan itu, Sireth tak ragu-ragu mengambil putusan untuk membunuh saudaranya.

Peristiwa itu nyaris tak diketahui siapapun, kalau saja seekor gagak tak berkoak-koak sepanjang hari. Seakan utusan dewi keadilan, gagak itu memberi kabar pada setiap orang. Peristiwa pembunuhan itu terbongkar, seseorang menemukan mayat saudara Sireth dicabik-cabik anjing liar yang berebutan dengan burung-burung pemakan bangkai. Penduduk kawasan itu seketika diterpa cemas, kutuk dan bencana akan dikirim penguasa alam raya karena kekejaman Sireth dibiarkan begitu saja. Benar, beberapa waktu kemudian bencana besar datang. Gempa bumi mengguncang, air sungai meluap menerjang permukiman. Mayat-mayat bergelimpangan, tangisan dan raung ketakutan bergumpal di udara lalu terlontar ke angkasa seakan meminta ampunan.

Satu persatu penduduk pergi dari kawasan itu dan dibenak mereka terpatri nama si penyebab bencana. Nama yang disebut turun temurun seakan menyebut hantu atau penyakit paling berbahaya. Sireth sendiri pergi entah ke mana. Sebagian penduduk kemudian membuka desa dan bermukim di kawasan di mana Ayikaka dilahirkan. Maka ketika penduduk tahu kalau Adras adalah keturunan Sireth, ia mulai dijauhi dan tetua desa memutuskan untuk mengusirnya dari sana.

Di hari ketika Adras pergi, Ayikaka menangis tersedu-sedu. Diam-diam dia menyimpan rasa benci pada penduduk desa. Sembari mengusap-usap rambut Ayikaka, Adras berkata, “Ayikaka tak usah berduka. Ini sudah jadi keputusan tetua desa dan saya menerimanya. Jika Ayikaka besar nanti, hiduplah dengan sederhana. Sebab jika Ayikaka melampaui yang sederhana, hidup Ayikaka takkan bahagia.” Ketika itu, Ayikaka membayangkan Adras pergi ke tempat yang pernah dikisahkannya. Tempat dengan keindahan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terbersit dalam pikiran manusia.

Arsip Cerpen di Indonesia