Adras Si Penjahit

Tapi Adras tak pergi sejauh itu. Beberapa tahun kemudian, Ayikaka yang telah tumbuh menjadi remaja berjalan hampir seharian untuk menemuinya.

“Ayikaka!” seru Adras demi melihat remaja kurus kering itu di depan pintu. Adras segera memeluk Ayikaka, mengusap rambutnya, seakan-akan dia adalah anak yang sudah lama dirindukan. Setelah menyantap sup jagung dan minum segelas air, Ayikaka menyampaikan tujuan kedatangannya. Di sela-sela kalimatnya, Ayikaka berusaha menahan airmata agar tak meleleh ke pipinya. Adras mengambil selembar mantel yang baru saja selesai dijahit, sebelum berkata,” Sesungguhnya saya sudah tahu kalau Ayikaka akan datang. Bawalah pakaian ini pulang nanti, dan sampaikan ke tetua desa saya bersedia berdoa.” Pakaian itu dijahit utuh dan menutup seluruh tubuh. Bahan yang dipakai bukan jenis kain biasa, permukaannya ungu dan berkilauan tertimpa cahaya dari lampu minyak. Di bagian leher ada penutup kepala. Adras meminta Ayikaka memakai pakaian itu saat ia berdoa nanti.

Adras berharap Ayikaka menginap, tetapi pikiran akan membawa kabar gembira ke desa membuat Ayikaka tak sabar untuk pulang. Malam itu juga dia kembali ke desa, menyusuri jalan yang sama. Sepanjang jalan dia membayangkan bencana kekeringan yang sudah bertahun-tahun mencengkeram desa, akan segera sirna. Ayikaka tiba di desa menjelang tengah hari, itu sedikit terlambat. Di tengah jalan, semalam, dia diserang kantuk lalu tertidur di atas sebuah batu pipih. Dalam tidurnya, Ayikaka bermimpi berada di suatu tempat yang demikian indah. Dia berjalan melewati beberapa pintu, di pintu keempat dia bertemu dengan Adras. Lantas ada suara membisik di telinga, “Terimalah Adras Si Penjahit sebagai penyelamatmu. Dia manusia istimewa yang akan membawamu ke cahaya keagungan.”

Ayikaka tak menceritakan mimpinya pada tetua desa. Dia hanya menyampaikan bahwa Adras bersedia berdoa untuk mereka. Tiga hari dari hari itu mereka akan berkumpul di padang terbuka menjadi saksi bagi doa Adras. Kabar itu disambut dengan sorak sorai, mereka percaya Adras telah memaafkan mereka dan itu artinya bencana kekeringan akan segera sirna. Mereka telah lama meyakini bahwa bencana itu terjadi karena mereka telah mengusir Adras dari desa.

Pada hari yang sudah ditentukan, tetua desa dan para penduduk berkumpul di padang terbuka sebelah utara permukiman. Adras berdiri di atas batu pipih, di hadapan mereka, seperti seorang pemimpin. Setelah memejamkan mata beberapa saat, Adras menadahkan kedua tangannya ke udara, lalu diserukannya baris-baris doa yang tak ada satu penduduk pun memahami artinya.

Arsip Cerpen di Indonesia