Adras Si Penjahit

Tak berapa lama kemudian, awan hitam bergulung-gulung di angkasa. Seluruh penduduk yang ada di sana serentak menengadah. Bisik-bisik antara mereka perlahan berubah jadi dengungan. Ketika jarum-jarum air pertama jatuh, mereka bersorak-sorai dengan riuh. Hujan tumpah, menghunjam tanah yang kering kerontang. Para penduduk melonjak-lonjak, menadah-nadahkan tangan seraya berseru-seru.

Tapi itu berlangsung tak lama. Hujan itu bukan hujan biasa. Satu persatu penduduk menyadari air hujan seperti cairan yang membuat kulit mereka terkelupas. Memang tak ada yang menjerit karena rasa sakit, tapi karena warna kulit mereka berubah, mereka jadi panik. Kulit mereka yang semula hitam pekat berubah jadi putih pucat. Mereka lari kesana kemari, jeritan mereka membentur suara hujan.

Di tengah kepanikan itu, Ayikaka berjalan pelan ke arah Adras. Tubuhnya tak terkena air hujan, sebab pakaian menutup seluruh tubuh. Kepalanya juga tertutup, sehingga wajahnya tak kelihatan. Meski terkena hujan, pakaian itu tak basah, air seperti tergelincir dari permukaannya yang berkilauan.

Di bawah hujan yang kian deras, Ayikaka dan Adras berdiri. Di hadapan mereka para penduduk memandang kaku bagai kumpulan patung batu.

 

(Kekalik, 26 April 2019)

Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Arsip Cerpen di Indonesia