Ia tersenyum kecut, mengambil kretek dan menyalakannya. Penuh hikmat ia isap bakaran tembakau di mulutnya yang gelap. Segelap pikiran mendedar hidupnya sejak empat puluh hari lalu. Firasat mengantarkannya ke warung kopi, serta mengundang tamu astral yang pernah mengunjunginya lewat mimpi.
Renungan mengantarnya pada segala peristiwa lampau. Pertama kali mengingat sesuatu, mengatakan sesuatu, mendengar sesuatu, pertama kali menghidu sesuatu, pertama kali merasakan sesuatu sampai pertama kali kebas, tak lagi merasa apa-apa.
“Mau nambah kopinya, Kang?” Sarti, pelayan warung kopi mengacaukan perjalanannya menjelajah memori. Tertegun, ia seperti baru turun dari kendaraan kahyangan, asing menatap sekeliling, beberapa sopir truk antarprovinsi menikmati malam dengan santai, tenang membalut keletihan. Ada yang khusyuk dengan ponselnya, ada yang berbincang tentang seni rupa, ada yang terkantuk-kantuk sembari masih menjepit puntung rokok. Tamunya tak tampak lagi, barang kali hanya padanya makhluk bermata hijau itu menampakkan diri.
“Boleh, Mbak.”
Pandangannya berpindah, memindai tangan ramping itu dengan keindah anter sendiri meracik kopi untuknya. Ia juga melihat napas Sarti berkurang sesudah diembuskan dengan refleks. Secara otomatis terkalkulasi menyisakan angka lumayan panjang.
Kopi panas tersaji, uapnya mengepul bagai tarian kabut tipis, seiring aroma khas mengunjungi penciumannya.
“Kok gelisah terus, Kang. Tidak seperti biasanya.” Perempuan yang bia sa irit kata-kata itu membuka dialog dengannya. Selintas, ia ingin tertawa. Ya, harus begini sebelum semua diakhiri. Harus ada drama yang bisa diingat orang. Kini, ia tahu kenapa.
“Oh ya?” Senyumnya hambar. Kembali mengisap kretek yang nyaris habis.
“Menurut Mbak Sarti, hidup ini apa?”
Sarti menatapnya heran. Sejenak beradu pandang, mata Ilham segera kabur ke dinding warung yang penuh tempelan pos teriklan rokok.
“Hidup itu anugerah kata D’Masiv, Kang.” Sarti cekikikan setelahnya. Entah karena merasa lucu atau tidak tahu ja waban yang diinginkan Ilham.
“Hidup itu perjalanan pulang, Mbak.” Tanpa senyuman, ia menekan suara. Tawa Sarti kandas.