“Pulang ke mana, Kang Ilham? Yang jelas, hidup itu perjuangan untuk sukses. Lha ini, contohnya saya, jadi pelayan warung ini sudah sepuluh tahun, hanya untuk bertahan hidup, biar nggak mati kelaparan, atau setidaknya, ya matinya jangan karena nggak bisa makan. Impian sih bisa sukses seperti Inses ya, dapat jodoh tampan, mapan, beriman. Apa daya, nasibku bukan nasibmu, kata Iwan Fals, hihihihi. Sampean juga, toh? Kerja siang malam jadi sopir truk untuk menghidupi keluarga di kampung.”
“Itu hanya bagian dari ikhtiar, Mbak. Sebenarnya, hidup itu perjalanan mencari fungsi masing-masing, bertemu atau tidak dengan kehendak penciptaan, perjalanan tetap punya tujuan. Sangkan paraning dumadi, dari mana kita berasal ke sanalah kita berpulang.”
Sarti termangu beberapa lama. Mencerna ucapan lelaki di depannya, tetapi tidak paham juga. Semenjak menjadi langganan warung kopinya, Ilham tidak pernah bicara sepanjang ini. Lelaki itu dikenal pendiam dan tidak punya banyak teman.
“Sebelum tidur, buatlah pertanyaan untuk apa harus ada pagi setelah malam. Ketika bangun lagi, tanyakan pada hati, apa yang dikehendaki hati, apa yang diingini, apa yang harus dihindari. Hidup sebagai shalat, sebagai puasa, sebagai zakat, atau sebagai yang lainnya. Hidup tidak memberi kita aba-aba kapan berbelok, kapan lurus, kapan menyiapkan kapal bila banjir bandang datang, kapan menyiapkan keranda. Tidak ada kesepakatan menolak atau menerima. Yang terjadi harus terjadi. Carilah apa yang paling diinginkan hati. Sebelum kita jadi purna manusia.”
Sarti terbengong kehilangan kata. Matanya mengerjap-ngerjap tanda pikirannya berusaha keras memahami lawan bicara. Ilham menyesap kopinya sedikit demi sedikit sampai tandas lalu pamit pergi setelah membayar semua kas bonnya dua pekan terakhir. Lelaki itu menjauh, Sarti masih memandangi punggung bidang dibalut kaos abu-abu. Ia pernah dengar, Ilham dulunya seorang ateis, lalu berkelana ke seluruh pelosok Indonesia entah mencari apa. Hari ini di matanya, Ilham berkata-kata seperti putra seorang Kiai Mbeling yang menyamarkan pesan religi dalam lagu-lagu cinta. Untuk kali pertama, Sarti mendapati paradoks dalam diri seorang lelaki berwajah resah. Sayup terdengar olehnya lantunan lagu:
Kumengira hanya dialah obatnya
Tapi kusadari bukan itu yang kucari
Kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan, kuyakin kau tak ingin aku berhenti….
***