Sesiapa yang paling lincah di antara mereka, ialah Alan. Ia selalu kegirangan ketika film superhero laba-laba diputar ketika liburan tiba. Karakter itulah idolanya. Suatu hari, lelaki bertinggi badan lebih sejengkal dari tinggi Alina ini pernah menjajal panjat dinding di area SMA ketika ia sedang dalam perjalanan berangkat sekolah. Namun, satpam yang baru saja keluar dari ruangan memergokinya pada panjatan ketiga. Tentu saja, apa yang dilakukan oleh anak ini dirasa berbahaya karena tanpa pengamanan apa pun. Terlebih lagi seragam yang dikenakan menandakan jika ia bukan murid sekolahan tersebut. Pantas wajah yang asing bagi penjaga sekolahan itu ditegur.
Sontak Alan terjun, disusul oleh kecepatan larinya, dan diakhiri dengan panjat pagarnya. Tempo cepat napas terbawa sampai ke sekolah yang seharusnya. Itu pun disebabkan oleh laju berlarinya, bukan karena rasa takutnya. Latar belakang itulah yang membuat Alan didapuk menjadi eksekutor pada setiap operasi yang dijalankan.
Sedangkan Aldo, tinggi dan besar badannya menjadi alasan teman sekelasnya berpikir ulang untuk membuatnya marah. Akan tetapi pengecualian bagi Alina dan Alan. Aldo sering jadi sasaran jahil mereka. Perutnya maju mendesak kancing baju. Posisi kacamatanya terkadang naik turun meski sebenarnya ukurannya tidak longgar, sebab itu memang disengaja saja. Ia merasa tak punya lawan panco yang pantas di kelas. Ia masih lebih baik daripada Alan untuk penguasaan materi pembelajaran. Tetapi dalam sepak terjangnya, Aldo ialah pemeran pendukung. Kekuatannya sangat bermanfaat bagi Alan untuk beraksi membabi buta.
Kecerdasan, kelincahan, dan kekuatan. Tiga hal yang membentuk kolaborasi hebat untuk meraih tujuan yang menurut mereka tepat.
Tak jauh dari sekolahan, rumah yang didominasi warna putih hampir tanpa ornamen dan dijajari oleh rumput liar sepetak itu, telah menjadi target selama hampir sebulan berlalu. Terlebih awal bulan akan segera tiba, itu adalah jadwal bagi mereka untuk melancarkan serangan senyap.
Mereka setiap hari melintas sepulang dari sekolah sembari mengamati keadaan dan mengunci target yang mereka incar. Mereka tau, aksi itu tidak bisa dilakukan sembarangan. Sambil melangkahkan kaki bersama menuju ke rumah masing-masing, strategi disusun dari hari ke hari, direbuslah taktik hingga matang. Diperlukan ketepatan dalam segala hal, tapi yang terpenting di antaranya adalah tekad dalam diri. Dan akhirnya hari itu pun tiba.